{"id":39765,"date":"2025-10-18T07:39:36","date_gmt":"2025-10-18T07:39:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=39765"},"modified":"2025-10-18T07:39:36","modified_gmt":"2025-10-18T07:39:36","slug":"pakar-nilai-tahun-pertama-prabowo-gibran-jadi-titik-balik-kebangkitan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/10\/18\/pakar-nilai-tahun-pertama-prabowo-gibran-jadi-titik-balik-kebangkitan-nasional\/","title":{"rendered":"Pakar Nilai Tahun Pertama Prabowo\u2013Gibran Jadi Titik Balik Kebangkitan Nasional"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Memasuki satu tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, geliat optimisme menyelimuti seluruh penjuru negeri. Berbagai kebijakan strategis yang dijalankan pemerintah berhasil memperkuat fondasi ekonomi nasional, meningkatkan kesejahteraan rakyat, serta mengangkat posisi Indonesia di panggung dunia.<\/p>\n<p>Ekonom Great Institute sekaligus Guru Besar FEB Universitas YARSI, Prof. Dr. Perdana Wahyu, menilai capaian pemerintahan dalam satu tahun terakhir tergolong luar biasa. \u201cDari sisi neraca perdagangan, sepanjang Januari\u2013September 2025 terjadi lonjakan hingga 45,8%, sementara tingkat pengangguran menurun menjadi 4,76% terendah sejak krisis 1998. Ini bukti nyata bahwa kebijakan ekonomi Presiden Prabowo efektif menumbuhkan lapangan kerja dan memperkuat daya beli rakyat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12% dan penurunan angka kemiskinan hingga 8,47% menunjukkan arah kebijakan yang semakin terarah. \u201cKeputusan Presiden Prabowo mengganti Menteri Keuangan menjadi langkah berani yang memunculkan optimisme baru dalam kebijakan fiskal dan likuiditas nasional. Likuiditas sebesar Rp230 triliun yang digelontorkan ke masyarakat mendorong geliat ekonomi di berbagai sektor,\u201d tegas Prof. Perdana.<\/p>\n<p>Sementara itu, Guru Besar Universitas Kristen Indonesia dan pakar hubungan internasional, Prof. Angel Damayanti, Ph.D., menilai langkah diplomasi Presiden Prabowo telah membawa nama Indonesia semakin diperhitungkan dunia. \u201cKunjungan kenegaraan yang menghasilkan potensi investasi Rp380 triliun adalah bukti nyata keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti diplomasi perdamaian yang diperjuangkan Presiden Prabowo di Sidang Majelis Umum PBB dan KTT Perdamaian Gaza. \u201cPidato Presiden Prabowo yang penuh semangat tanpa teks membangkitkan rasa bangga nasional dan diapresiasi oleh pemimpin dunia. Itu simbol kepemimpinan yang berwibawa dan berprinsip,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Di sektor ekonomi rakyat, ekonom senior Drajad Wibowo menilai program swasembada pangan dan deregulasi pupuk bersubsidi mempercepat peningkatan produktivitas pertanian nasional. \u201cPemerintah juga memberi perhatian besar terhadap pemberdayaan perempuan, dengan 15 juta nasabah perempuan mendapat akses pembiayaan untuk membuka usaha. Ini langkah konkret membangun ekonomi keluarga dari akar rumput,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Magang Nasional, dan Koperasi Desa Merah Putih juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat. \u201cMBG tidak hanya menyehatkan generasi muda, tapi juga menggairahkan sektor pangan dan UMKM,\u201d tambah Drajad.<\/p>\n<p>Satu tahun pemerintahan Prabowo\u2013Gibran telah menunjukkan arah yang jelas menuju Indonesia Emas 2045. Dengan fondasi ekonomi yang kokoh, diplomasi yang berpengaruh, dan program kerakyatan yang berpihak pada rakyat, semangat optimisme kini tumbuh di setiap lapisan masyarakat menandai lahirnya era baru kebangkitan nasional yang penuh harapan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA &#8211; Memasuki satu tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-39765","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39765","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39765"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39765\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39774,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39765\/revisions\/39774"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39765"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39765"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39765"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=39765"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}