{"id":40154,"date":"2025-10-26T18:02:57","date_gmt":"2025-10-26T18:02:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=40154"},"modified":"2025-10-26T18:03:09","modified_gmt":"2025-10-26T18:03:09","slug":"lewat-program-mbg-pemerintah-siapkan-pemuda-sehat-dan-berdaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/10\/26\/lewat-program-mbg-pemerintah-siapkan-pemuda-sehat-dan-berdaya\/","title":{"rendered":"Lewat Program MBG, Pemerintah Siapkan Pemuda Sehat dan Berdaya"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u0096 Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober, pemerintah kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya melalui penguatan program gizi bagi anak-sekolah. Inisiatif unggulan ini dilatar-belakangi oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan secara nasional sebagai langkah strategis untuk mendukung pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan pemuda Indonesia.<br \/>\nDalam pidato satu tahun pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi anak-sekolah bukan sekadar subsidi biasa melainkan fondasi pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.<br \/>\n\u0093Alhamdulillah kita mampu menjaga pertumbuhan ekonomi masih tetap tinggi \u0085 dan yang paling penting, kita memprioritaskan generasi muda dengan gizi yang cukup agar siap menghadapi tantangan global,\u0094 ujar Presiden.<br \/>\nProgram MBG sendiri mulai menyentuh banyak sekolah dan pelajar di berbagai jenjang. Berdasarkan keterangan resmi, program ini telah menjangkau sekitar 20 juta anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui hingga Agustus 2025. Juga dilaporkan bahwa sejak Januari 2025 telah dibagikan 1,410,000,000 porsi MBG kepada 36,7 juta anak sekolah, ibu hamil dan ibu menyusui.<br \/>\nTenaga Ahli Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Fadhly, menegaskan bahwa MBG adalah inisiatif strategis Presiden Prabowo untuk menekan angka stunting dan malnutrisi di Indonesia.<br \/>\n\u0093Tujuannya jelas, yaitu memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi seimbang agar tumbuh optimal dan mampu berprestasi. Program ini juga berdampak ekonomi karena memberdayakan sektor pangan lokal,\u0094 ujar Fadhly.<br \/>\nSementara itu, Koordinator Lembaga Aspirasi dan Kebijakan Publik Indonesia (LAKSI) Azmi Hidzaqi menyoroti aspek pengawasan program.<br \/>\n\u0093Kami mendukung penuh langkah Badan Gizi Nasional (BGN) membenahi seluruh mitra penyedia makanan dengan pengetatan prosedur keamanan mulai dari dapur hingga distribusi,\u0094 kata Azmi.<br \/>\nBeliau juga mengingatkan agar insiden seperti keracunan makanan tidak menghambat jalannya program yang bernilai strategis ini.<br \/>\nDi tengah tantangan global dan domestik, pemerintah menghadirkan MBG sebagai solusi holistik yang menggabungkan aspek gizi, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Selain itu, pelaksanaan program terus diperkuat dengan mekanisme distribusi yang tetap berjalan meski masa libur sekolah, untuk memastikan kontinuitas manfaat.<br \/>\nDalam spirit perayaan Hari Sumpah Pemuda, pemerintah menempatkan pemuda sebagai ujung tombak perubahan. Dengan gizi yang memadai, anak-sekolah diharapkan tidak hanya sehat secara fisik tetapi juga tangguh dalam berpikir, kreatif dalam menghadapi tantangan 4.0, dan produktif dalam membangun negeri. Program MBG pun memperkuat pemberdayaan sektor pangan lokal, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan pangan dan edukasi gizi yang berkelanjutan.<br \/>\nMenutup pernyataannya, Presiden Prabowo menegaskan kembali bahwa generasi muda Indonesia harus mampu berdiri tegak, berdaya saing, dan berkontribusi besar bagi bangsa.<br \/>\n\u0093Dengan gizi yang baik, kita akan punya pemuda yang berani, berkarya, dan membawa Indonesia menuju kejayaan,\u0094 tutur Prabowo.*<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u0096 Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober, pemerintah kembali menunjukkan komitmennya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-40154","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40154"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40154\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":40170,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40154\/revisions\/40170"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40154"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=40154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}