{"id":40573,"date":"2025-11-05T05:32:40","date_gmt":"2025-11-05T05:32:40","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=40573"},"modified":"2025-11-05T05:32:41","modified_gmt":"2025-11-05T05:32:41","slug":"kenaikan-belanja-fiskal-dorong-akselarasi-pertumbuhan-ekonomi-hingga-akhir-tahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/11\/05\/kenaikan-belanja-fiskal-dorong-akselarasi-pertumbuhan-ekonomi-hingga-akhir-tahun\/","title":{"rendered":"Kenaikan Belanja Fiskal Dorong Akselarasi Pertumbuhan Ekonomi Hingga Akhir Tahun"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Dorongan fiskal pemerintah menjelang akhir tahun diprediksi menjadi penggerak utama akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sejumlah analis menilai, meski pertumbuhan masih berada pada kisaran 5 persen, ruang untuk mempercepat laju ekonomi terbuka lebar melalui percepatan realisasi belanja dan penguatan konsumsi domestik.<\/p>\n<p>Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Muhammad Rizal Taufikurahman, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 mencapai 5,0%\u20135,2%, naik tipis dari kuartal sebelumnya sebesar 5,12%. Peningkatan ini masih bersumber dari efek siklus fiskal dan konsumsi jangka pendek, bukan dari penguatan struktural ekonomi.<\/p>\n<p>\u201cEkonomi tumbuh karena didorong, bukan karena menguat. Belanja pemerintah yang ekspansif dan stabilitas harga pangan memang memberi ruang bagi konsumsi, tapi daya beli masyarakat menengah-bawah belum benar-benar pulih,\u201d kata Rizal.<\/p>\n<p>Rizal menegaskan, pertumbuhan pada kuartal III lebih mencerminkan stabilitas nominal ketimbang peningkatan produktivitas riil. Belanja pemerintah menjadi motor utama konsumsi domestik, sementara investasi swasta masih menahan ekspansi akibat ketidakpastian global dan suku bunga yang tinggi.<\/p>\n<p>\u201cMesin pertumbuhan masih dipacu dari atas, bukan tumbuh dari dinamika pasar. Untuk menjaga keberlanjutan pemerintah perlu menggeser fokus ke pertumbuhan struktural dengan memperbaiki efisiensi belanja publik dan memperluas basis pajak produktif,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Di tingkat regional, optimisme juga tampak dari Jawa Timur. Ekonom Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, memproyeksikan perekonomian Jawa Timur tumbuh 5,2\u20135,7% pada 2026, didorong oleh belanja fiskal sektor produktif dan penguatan daya beli masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cPenguatan konsumsi menjadi kunci karena kontribusinya terhadap PDRB mencapai 60%. Dalam jangka panjang, sektor industri pengolahan harus menjadi lokomotif pertumbuhan agar target Indonesia Emas bisa terwujud,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Research Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Gundy Cahyadi, mengatakan pertumbuhan konsumsi mulai membaik, tercermin dari kenaikan penjualan ritel 5,8 persen pada September 2025\u2014tertinggi sejak awal tahun. Namun, inflasi inti yang hanya 2,2 persen menunjukkan dorongan konsumsi masih terbatas.<\/p>\n<p>\u201cYang kita lihat saat ini adalah stabilisasi, bukan lonjakan. Kabar baiknya, fondasi ekonomi tetap kokoh,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dari sisi fiskal, realisasi belanja pemerintah hingga September baru mencapai 59,7 persen dari target tahunan, memberi ruang bagi percepatan pada kuartal IV. Percepatan belanja diprediksi akan mengerek aktivitas ekonomi melalui proyek infrastruktur, subsidi pangan, dan program perlindungan sosial.<\/p>\n<p>\u201cKenaikan belanja fiskal pada akhir tahun menjadi momentum penting untuk mendorong pertumbuhan di atas 5 persen dan menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global,\u201d pungkasnya. (*\/rls)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2013 Dorongan fiskal pemerintah menjelang akhir tahun diprediksi menjadi penggerak utama akselerasi pertumbuhan ekonomi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-40573","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40573","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40573"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40573\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":40591,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40573\/revisions\/40591"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40573"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40573"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40573"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=40573"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}