{"id":41128,"date":"2025-11-13T06:02:13","date_gmt":"2025-11-13T06:02:13","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=41128"},"modified":"2025-11-13T06:02:14","modified_gmt":"2025-11-13T06:02:14","slug":"program-pemeriksaan-gratis-bantu-deteksi-dini-penyakit-tidak-menular","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/11\/13\/program-pemeriksaan-gratis-bantu-deteksi-dini-penyakit-tidak-menular\/","title":{"rendered":"Program Pemeriksaan Gratis Bantu Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular"},"content":{"rendered":"<p>Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah menjadi langkah strategis dalam memperkuat deteksi dini dan pencegahan penyakit di masyarakat. Inisiatif ini dirancang untuk menekan angka penyakit tidak menular (PTM) sekaligus meningkatkan harapan hidup masyarakat Indonesia.<br \/>\nKepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan bahwa CKG merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan yang berfokus pada upaya promotif dan preventif.<br \/>\n\u201cBanyak kasus penyakit berat sebenarnya bisa dicegah jika kondisi kesehatan masyarakat diketahui sejak dini melalui pemeriksaan rutin,\u201d ujarnya.<br \/>\nAji mencontohkan negara seperti Korea Selatan, Singapura, dan Jepang yang mampu mencapai usia harapan hidup hingga 84 tahun karena menekankan pentingnya deteksi dini.<br \/>\n\u201cDi Indonesia, banyak penyakit baru terdeteksi saat sudah kronis karena minimnya pemeriksaan. Padahal cukup tiga indikator dasar yang perlu rutin dicek, yaitu tekanan darah, gula darah, dan kolesterol,\u201d jelasnya.<br \/>\nMenurut Aji, sebagian besar masalah kesehatan masyarakat saat ini berasal dari penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.<br \/>\nSurvei awal pelaksanaan CKG menunjukkan banyak warga usia produktif memiliki tekanan darah tinggi dan kadar gula darah tidak terkontrol, bahkan sebagian belum pernah memeriksakan kolesterol atau indeks massa tubuhnya.<br \/>\nIa menegaskan bahwa program CKG bersifat gratis dan dapat diakses di puskesmas, sekolah, serta melalui layanan jemput bola di komunitas.<br \/>\n\u201cPemeriksaan yang biasanya menghabiskan biaya besar kini bisa dilakukan tanpa dipungut biaya. Sayang kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan,\u201d tambahnya.<br \/>\nKepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, Chaidir Annas, menyampaikan bahwa pelaksanaan CKG di daerahnya menunjukkan capaian membanggakan.<br \/>\n\u201cSejak dimulai Februari lalu, kami telah melayani 344.217 warga atau 69,92 persen dari target 492 ribu orang. Antusiasme masyarakat sangat tinggi,\u201d ujarnya.<br \/>\nChaidir menjelaskan, program ini tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga anak-anak sekolah melalui pemeriksaan status gizi, kesehatan gigi, mata, dan deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular.<br \/>\n\u201cTenaga kesehatan kami aktif turun langsung ke sekolah-sekolah untuk menanamkan kesadaran hidup sehat sejak dini,\u201d katanya.<br \/>\nIa juga menyebut inovasi digital melalui situs Sehat Indonesiaku (ASIK) membantu petugas mencatat data masyarakat secara langsung, sehingga kendala pendaftaran online bisa diatasi.<br \/>\nAji menegaskan pentingnya kerja sama semua pihak untuk memastikan keberlanjutan program ini.<br \/>\n\u201cKesehatan tidak bisa dikerjakan pemerintah sendirian. Harus kolaboratif agar manfaatnya dirasakan seluruh masyarakat,\u201d tegasnya. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah menjadi langkah strategis dalam memperkuat deteksi dini&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-41128","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41128","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41128"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41128\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":41129,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41128\/revisions\/41129"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41128"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41128"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41128"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=41128"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}