{"id":41729,"date":"2025-12-01T07:58:21","date_gmt":"2025-12-01T07:58:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=41729"},"modified":"2025-12-01T07:58:23","modified_gmt":"2025-12-01T07:58:23","slug":"reuni-212-harus-tetap-damai-publik-diminta-waspadai-penyusup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/12\/01\/reuni-212-harus-tetap-damai-publik-diminta-waspadai-penyusup\/","title":{"rendered":"Reuni 212 Harus Tetap Damai, Publik Diminta Waspadai Penyusup"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Sejumlah tokoh masyarakat dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menegaskan pentingnya menjaga Reuni 212 agar tetap berlangsung damai serta terbebas dari kepentingan pihak-pihak yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa.<\/p>\n<p>Para tokoh menilai Reuni 212 tidak boleh dimanfaatkan sebagai ruang politisasi agama maupun ajang adu domba yang dapat mengganggu stabilitas nasional.<\/p>\n<p>Publik diminta bersikap tenang, dewasa, dan waspada terhadap kemungkinan hadirnya penyusup berkepentingan yang ingin mengalihkan tujuan kegiatan menjadi sarana provokasi atau tindakan anarki.<\/p>\n<p>Salah satu tokoh NU, KH Robikin Emhas, menegaskan bahwa secara organisasi NU tidak akan terlibat dalam Reuni 212 apabila pesan yang disuarakan mengarah pada politisasi agama dan perpecahan sosial.<\/p>\n<p>\u201cJangan dicederai dengan politisasi agama, jangan juga mau diadu domba, dipecah belah,\u201d ujar Robikin Emhas kepada wartawan.<\/p>\n<p>\u201cKarena itu sama dengan merendahkan agama\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Robikin menjelaskan bahwa sikap NU tersebut telah disampaikan kepada warga secara internal.<\/p>\n<p>Ia berharap seluruh kader dapat mengikuti garis organisasi dan mampu menempatkan diri secara arif.<\/p>\n<p>\u201cWarga NU sangat paham merepresentasikan diri. Jadi tidak perlu ada arahan detail karena kami yakin mereka sudah paham dan bisa memilah mana yang diikuti,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>\u201cJangan melakukan hate speech atau tindakan yang menimbulkan permusuhan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Abdul Mu\u2019ti, selaku tokoh Muhammadiyah, turut menegaskan bahwa secara organisasi Muhammadiyah tidak terlibat dalam Reuni 212.<\/p>\n<p>Menurut Abdul Mu\u2019ti, misi seperti \u201cbela Islam\u201d yang kerap disuarakan kelompok 212 tidak lagi relevan dengan kondisi saat itu karena nuansa politik lebih dominan dibandingkan pesan keagamaan.<\/p>\n<p>Sementara itu, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas mengingatkan semua pihak agar tidak merespons isu Reuni 212 secara berlebihan.<\/p>\n<p>\u201cOleh karena itu janganlah pihak-pihak lain meresponnya secara berlebihan,\u201d ujar Anwar Abbas.<\/p>\n<p>Ia menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat.<\/p>\n<p>\u201cHanya kalau mau menyampaikan pendapat dilakukan dengan baik, jangan mencela, menghina, apalagi mengejek,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Seruan tersebut menegaskan bahwa Reuni 212 harus tetap berada dalam koridor damai, menjunjung persatuan umat, serta menolak segala bentuk provokasi dan perpecahan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Sejumlah tokoh masyarakat dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah menegaskan pentingnya menjaga Reuni 212 agar tetap berlangsung damai serta terbebas dari kepentingan pihak-pihak yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Para tokoh menilai Reuni 212 tidak boleh dimanfaatkan sebagai ruang politisasi agama maupun ajang adu domba yang dapat mengganggu stabilitas nasional. Publik diminta bersikap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-41729","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41729"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41729\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":41730,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41729\/revisions\/41730"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}