{"id":42105,"date":"2025-12-14T13:18:26","date_gmt":"2025-12-14T13:18:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=42105"},"modified":"2025-12-14T13:19:15","modified_gmt":"2025-12-14T13:19:15","slug":"masyarakat-dukung-penetapan-ulang-sejarah-untuk-kuatkan-identitas-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2025\/12\/14\/masyarakat-dukung-penetapan-ulang-sejarah-untuk-kuatkan-identitas-bangsa\/","title":{"rendered":"Masyarakat Dukung Penetapan Ulang Sejarah untuk Kuatkan Identitas Bangsa"},"content":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Dukungan publik terhadap adanya penetapan ulang sejarah nasional terus saja menguat seiring berkembangnya wacana pembaruan narasi sejarah yang menjadi jauh lebih akurat dan Indonesia-sentris. <\/p>\n<p>Berbagai kelompok masyarakat dan ahli sejarah menilai bahwa rekonstruksi narasi sejarah tersebut dapat semakin memperkokoh identitas bangsa serta mampu menjawab bagaimana kebutuhan zaman yang terus berubah seperti saat ini.<\/p>\n<p>Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memaparkan mengenai seperti apa urgensi penulisan ulang sejarah dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI. <\/p>\n<p>Ia menegaskan bahwa pembaruan sejarah tersebut sejatinya merupakan hal yang diperlukan untuk bisa menghapus adanya bias kolonial dan semakin meneguhkan sudut pandang nasional. <\/p>\n<p>\u201cPenulisan ulang sejarah bukan lagi pilihan, tapi keharusan,\u201d ujar Fadli Zon. <\/p>\n<p>Ia menjelaskan bahwa penyusunan sejarah dirancang dalam sepuluh jilid mencakup peradaban awal Nusantara hingga perkembangan pada Era Reformasi, dengan pendekatan yang sepenuhnya Indonesia-sentris.<\/p>\n<p>Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menekankan pentingnya proses penyusunan yang terbuka dan melibatkan publik. <\/p>\n<p>Ia menyampaikan bahwa DPR ingin memastikan seluruh tahapan penulisan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pakar hingga masyarakat luas. <\/p>\n<p>\u201cIni bukan sekadar penulisan akademis, ini membentuk memori kolektif bangsa,\u201d ungkap Hetifah. <\/p>\n<p>Ia menilai bahwa partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam menghasilkan narasi sejarah yang inklusif.<\/p>\n<p>Dukungan serupa disampaikan Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, yang menggarisbawahi perlunya sejarah yang utuh dan memberi edukasi mendalam bagi masyarakat. <\/p>\n<p>\u201cSaya kira itu sah-sah saja, sepanjang tentu apa yang disampaikan itu adalah sejarah yang utuh, dan bisa memberikan edukasi bagi masyarakat secara keseluruhan,\u201d ujarnya. <\/p>\n<p>Ia menilai bahwa pemahaman sejarah yang komprehensif sangat diperlukan agar generasi muda mengenali esensi perjuangan bangsa. <\/p>\n<p>\u201cSejarah perjalanan bangsa ini adalah sejarah perjalanan yang penuh perjuangan, penuh pengorbanan,\u201d lanjut Eddy. <\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa penyampaian profil pahlawan secara utuh dapat menumbuhkan kebanggaan nasional di tengah generasi sekarang.<\/p>\n<p>Proyek penulisan ulang sejarah nasional tersebut melibatkan lebih dari seratus sejarawan dan arkeolog dengan rencana uji publik di berbagai wilayah. <\/p>\n<p>Dukungan masyarakat yang terus menguat memperlihatkan bahwa penetapan ulang sejarah dipandang sebagai langkah penting untuk memperkuat identitas bangsa Indonesia. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>JAKARTA \u2014 Dukungan publik terhadap adanya penetapan ulang sejarah nasional terus saja menguat seiring berkembangnya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-42105","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42105"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":42128,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42105\/revisions\/42128"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42105"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=42105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}