{"id":423,"date":"2021-12-16T22:50:46","date_gmt":"2021-12-16T22:50:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=423"},"modified":"2021-12-16T22:50:51","modified_gmt":"2021-12-16T22:50:51","slug":"ini-alasan-4-000-warga-china-menetap-di-timor-leste-dan-berikan-pinjaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2021\/12\/16\/ini-alasan-4-000-warga-china-menetap-di-timor-leste-dan-berikan-pinjaman\/","title":{"rendered":"Ini Alasan 4.000 Warga China menetap di Timor Leste dan Berikan Pinjaman"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, jurnalredaksi\u2013Beberapa waktu terakhir,&nbsp;Timor&nbsp;Leste&nbsp;dan&nbsp;China&nbsp;terus jadi perbincangan publik.Bagaimana tidak, sebanyak 4.000 masyarakat&nbsp;China&nbsp;pindah ke&nbsp;Timor&nbsp;Leste. Kini, terkuak alasan 4.000 masyarakat&nbsp;China&nbsp;pindah ke&nbsp;Timor&nbsp;Leste.&nbsp; Karena cukup banyak warga negara&nbsp;China&nbsp;menetap di negara kecil itu.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Salah satu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan&nbsp;Timor&nbsp;Leste&nbsp;adalah&nbsp;China. Tak disangka,&nbsp;China&nbsp;rupanya juga menyediakan banyak biaya pembangunan bagi&nbsp;Timor&nbsp;Leste. Selain memberikan pinjaman&nbsp;utang&nbsp;dalam proyek Tasi Mane, diketahui ada 4.000 orang&nbsp;China&nbsp;yang menetap di&nbsp;Timor&nbsp;Leste.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Warga asal\u00a0China\u00a0tersebut mendirikan basis\u00a0ekonomi, mulai dari skala kecil hingga besar. Di Plaza Timor, nyaris semua toko dan tempat perbelanjaan dimiliki oleh orang Tionghoa. Salah satu pedagangnya bernama Ma Liyu, seorang wanita yang mengaku berasal dari kota Ningde di Provinsi Fujian,\u00a0China.\u00a0 Ma Liyu datang jauh-jauh ke\u00a0Timor\u00a0Leste\u00a0untuk berdagang daun teh dan aksesoris handphone.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia memutuskan pindah sejak 11 tahun yang lalu.\u00a0 Lantaran, ia mendengar kabar akan sangat mudah untuk menghasilkan uang di negara\u00a0Timor\u00a0Leste.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Tetu saja prosesnya tidak mudah, Ma Liyu menuturkan, dirinya sempat ditipu oleh imigran\u00a0China\u00a0lainnya dan harus kehilangan tabungannya sebanyak 70.000 dollar AS (Rp 100 juta kurs 2021).\u00a0 Menurut Ma, ada banyak persaingan yang terjadi di\u00a0Timor\u00a0Leste\u00a0antara orang-orang dari\u00a0China.\u00a0 Namun mereka menuturkan, lebih enak tinggal di Timor Leste.<\/p>\n\n\n\n<p>Mica Barreto Soares, seorang peneliti tentang hubungan\u00a0China-Timor-Leste dan kontributor Routledge Handbook of Contemporary Timor-Leste 2019 mengungkap penelitiannya.\u00a0 Ia memperkirakan, sekitar 4.000 Migran\u00a0China\u00a0tinggal di negara itu pada 2019.\u00a0 Mereka telah mendirikan 300 hingga 400 perusahaan bisnis.\u00a0 Ini termasuk menjual barang-barang murah dan bahan bangunan, serta menjalankan restoran, hotel, rumah bordil, warung internet, dan pompa bensin, tulisnya.<\/p>\n\n\n\n<p><br>Namun, Kedutaan Besar\u00a0China\u00a0di Dili tidak pernah merilis angka tentang berapa banyak warganya yang berada di\u00a0Timor\u00a0Leste. Bahkan, banyak yang mungkin tidak mendaftarkan kehadiran mereka di kedutaan atau memperpanjang visa mereka. Sehingga, sulit untuk menentukan jumlah pastinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Graeme Smith, seorang peneliti di Departemen Urusan Pasifik dari Universitas Nasional Australia dan pembawa acara The Little Red Podcast, yang menangani urusan\u00a0China\u00a0juga mengungkap penelitiannya. Bahkan, banyak yang mungkin tidak mendaftarkan kehadiran mereka di kedutaan atau memperpanjang visa mereka. Sehingga, sulit untuk menentukan jumlah pastinya.<\/p>\n\n\n\n<p>(CA\/AA)<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, jurnalredaksi\u2013Beberapa waktu terakhir,&nbsp;Timor&nbsp;Leste&nbsp;dan&nbsp;China&nbsp;terus jadi perbincangan publik.Bagaimana tidak, sebanyak 4.000 masyarakat&nbsp;China&nbsp;pindah ke&nbsp;Timor&nbsp;Leste. Kini, terkuak alasan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":427,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[106,70,105],"newstopic":[],"class_list":["post-423","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi-dan-investasi","tag-china","tag-ekonomi","tag-timor-timur"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=423"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":428,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/423\/revisions\/428"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/427"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=423"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=423"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=423"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=423"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}