{"id":43514,"date":"2026-01-25T22:41:17","date_gmt":"2026-01-25T22:41:17","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=43514"},"modified":"2026-01-25T22:41:18","modified_gmt":"2026-01-25T22:41:18","slug":"swasembada-pangan-era-prabowo-diperkuat-aksi-nyata-daerah-dan-dunia-usaha","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/01\/25\/swasembada-pangan-era-prabowo-diperkuat-aksi-nyata-daerah-dan-dunia-usaha\/","title":{"rendered":"Swasembada Pangan Era Prabowo Diperkuat Aksi Nyata Daerah dan Dunia Usaha"},"content":{"rendered":"<p>Petani menanam padi di lahan pertanian Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (30\/11\/2024). Pemerintah berencana menyiapkan penyuluh pertanian di setiap desa dari total sedikitnya 37 ribu penyuluh pertanian yang ada untuk memberikan edukasi kepada petani terutama dalam penggunaan pupuk yang efisien, pemilihan bibit unggul, serta penerapan teknologi modern yang diharapkan dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga keberlanjutan pertanian demi mencapai swasembada pangan. ANTARA FOTO\/Irfan Sumanjaya\/nz<\/p>\n<p>Jakarta \u2013 Presiden Prabowo Subianto memuji kinerja tim pemerintahannya yang mampu mewujudkan swasembada beras nasional jauh lebih cepat dari target awal.<\/p>\n<p>Target yang sebelumnya dipatok empat tahun, nyatanya dapat dicapai hanya dalam waktu satu tahun. Pernyataan itu disampaikan Presiden Prabowo saat berbicara di forum internasional World Economic Forum (WEF).<\/p>\n<p>Ia mengungkapkan bahwa produksi beras Indonesia kini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah.<\/p>\n<p>\u201cSaya memberi target empat tahun, tetapi tim saya mampu mencapainya dalam satu tahun,\u201d ujar Prabowo.<\/p>\n<p>Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti kerja keras dan keseriusan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Presiden Prabowo juga menyatakan optimisme bahwa dalam empat tahun ke depan Indonesia tidak hanya swasembada beras, tetapi juga pangan strategis lainnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya yakin kita bisa mandiri pangan secara menyeluruh,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Dukungan terhadap agenda swasembada pangan nasional tersebut terlihat nyata di daerah.<\/p>\n<p>Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, menegaskan bahwa ketersediaan beras di Sulawesi Utara saat ini berada dalam kondisi aman.<\/p>\n<p>\u201cBeras kita tercukupi di Sulut. Kita juga rutin melakukan Gerakan Pangan Murah dan membagikan beras cadangan pemerintah, terutama saat menghadapi Natal dan Tahun Baru,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, langkah antisipatif tersebut turut menekan laju inflasi. \u201cPuji Tuhan, inflasi Sulut di tahun 2025 nomor tiga terendah di Indonesia. Ini hasil dari gerakan dan program yang kita lakukan bersama,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Pemerintah provinsi juga berencana mendistribusikan kembali sekitar 2.000 hektare lahan pertanian serta menyalurkan bantuan alat dan sarana pertanian.<\/p>\n<p>\u201cSaya juga akan berikan lima pompa air agar saat musim kemarau nanti, panen kita tidak tergantung hujan,\u201d jelas Gubernur Yulius, sembari mengingatkan petani agar tidak menimbun hasil panen.<\/p>\n<p>Kontribusi pelaku usaha turut memperkuat upaya tersebut.<\/p>\n<p>PT Global Nutri Agrinusa (GNA) melalui produk pupuk Suma memfasilitasi panen raya di Desa Gabus, Kabupaten Pati. Perwakilan PT GNA, Endah Sri Wahyuningati, menyatakan kegiatan ini selaras dengan upaya swasembada pangan.<\/p>\n<p>\u201cProduk kami hadir sebagai mitra yang akan berkolaborasi dengan prototipe pertanian yang selama ini sudah ada di lapangan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, hasil ubinan menunjukkan produktivitas lahan mencapai lebih dari 10 ton per hektare.<\/p>\n<p>\u201cYang terpenting, produk ini diaplikasikan secara benar, dan ketika ada kendala, PT GNA siap mendampingi serta memberikan solusi,\u201d tutupnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Petani menanam padi di lahan pertanian Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-43514","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43514"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43515,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43514\/revisions\/43515"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43514"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=43514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}