{"id":43907,"date":"2026-02-04T07:35:57","date_gmt":"2026-02-04T07:35:57","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=43907"},"modified":"2026-02-04T07:35:58","modified_gmt":"2026-02-04T07:35:58","slug":"ekonom-apresiasi-strategi-integrasi-pangan-lokal-dengan-program-mbg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/02\/04\/ekonom-apresiasi-strategi-integrasi-pangan-lokal-dengan-program-mbg\/","title":{"rendered":"Ekonom Apresiasi Strategi Integrasi Pangan Lokal Dengan Program MBG"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pakar Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengapresiasi integrasi pangan lokal dengan Program Makan Bergizi Gratis, karena dinilai sebagai strategi penting untuk menjaga keberlanjutan fiskal, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta mendukung efektivitas program pemerintah secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>\u201cIntegrasi Program Makan Bergizi Gratis dengan potensi pangan lokal, termasuk inisiatif strategis pemerintah seperti Peternakan Ayam Merah Putih dari Kementerian Pertanian, merupakan langkah krusial untuk menjamin keberlanjutan fiskal MBG,\u201d ujar Wijayanto.<\/p>\n<p>Wijayanto menilai, keberhasilan Program MBG sangat bergantung pada ketersediaan dan kesinambungan pasokan pangan. Oleh karena itu, pemanfaatan potensi pangan lokal yang didukung oleh berbagai inisiatif strategis pemerintah menjadi kunci utama agar program tersebut berjalan efektif dan berkelanjutan.<\/p>\n<p>\u201cDengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang lebih mudah diakses, segar, dan harganya relatif stabil akan menjamin keberlanjutan jalannya program ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, ketergantungan pada impor pangan berisiko meningkatkan beban anggaran negara dan membuat program sosial berskala besar seperti MBG rentan terhadap gejolak harga global.<\/p>\n<p>Optimalisasi pangan lokal menekan biaya, menjaga pasokan, mendorong ekonomi, serta memberi manfaat langsung bagi petani, peternak, UMKM, dan memperkuat rantai pasok protein hewani melalui inisiatif Peternakan Ayam Merah Putih nasional berkelanjutan fiskal.<\/p>\n<p>Wijayanto menyatakan Program MBG berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, program tersebut mampu mendorong ekonomi nasional dan merupakan ide revolusioner,<\/p>\n<p>\u201cApabila implementasi di tingkat lokal mampu dilakukan secara masif, terukur, dan tertarget, lanjutnya, tingkat kesuksesan program untuk mencapai hasil yang diinginkan bisa lebih terpenuhi,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Senada, Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Kesehatan Agus Triwinarto menilai pemanfaatan pangan lokal dapat menjamin keberlangsungan pasokan harian Program MBG, karena peningkatan keragaman pangan lokal yang aman dan higienis akan memastikan menu MBG sesuai dengan standar kecukupan gizi yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>\u201cDengan peningkatan keragaman pangan lokal, dan penjaminan keamanan pangan dan makanan higienis, MBG yang diberikan memang akan sesuai dengan kecukupan gizi,\u201d kata Agus.<\/p>\n<p>Untuk diketahui, Program Makan Bergizi Gratis merupakan program prioritas pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi anak dan kelompok rentan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan menjaga keberlanjutan program jangka panjang melalui integrasi pangan lokal.. [-RWA]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pakar Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengapresiasi integrasi pangan lokal dengan Program Makan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-43907","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43907","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43907"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43907\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43908,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43907\/revisions\/43908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43907"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43907"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43907"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=43907"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}