{"id":43917,"date":"2026-02-04T07:47:32","date_gmt":"2026-02-04T07:47:32","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=43917"},"modified":"2026-02-04T07:47:33","modified_gmt":"2026-02-04T07:47:33","slug":"pakar-apresiasi-mbg-terintegrasi-pangan-lokal-dinilai-jamin-keberlanjutan-fiskal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/02\/04\/pakar-apresiasi-mbg-terintegrasi-pangan-lokal-dinilai-jamin-keberlanjutan-fiskal\/","title":{"rendered":"Pakar Apresiasi MBG Terintegrasi Pangan Lokal, Dinilai Jamin Keberlanjutan Fiskal"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pakar Ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengapresiasi langkah pemerintah dalam mengintegrasikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan potensi pangan lokal serta inisiatif strategis seperti Program Peternakan Ayam Merah Putih dari Kementerian Pertanian.<\/p>\n<p>Integrasi tersebut dinilai sebagai langkah penting untuk menjamin keberlanjutan fiskal MBG sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok pangan nasional.<\/p>\n<p>Menurut Wijayanto, pemanfaatan pangan lokal melalui peternakan rakyat dan komoditas daerah tidak hanya mendukung pemenuhan standar gizi nasional, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas.<\/p>\n<p>Skema ini memungkinkan MBG berfungsi sebagai instrumen kebijakan yang mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat secara inklusif dan bertahap.<\/p>\n<p>\u201cDengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang lebih mudah diakses, segar, dan harganya relatif stabil akan menjamin keberlanjutan jalannya program ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menilai program MBG menghadirkan pendekatan baru dalam perumusan dan implementasi kebijakan.<\/p>\n<p>\u201cMenurut saya, MBG ini suatu ide yang revolusioner,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Wijayanto juga menegaskan bahwa MBG memiliki potensi besar sebagai penggerak perekonomian nasional, terutama melalui implementasi yang terukur dan konsisten di tingkat daerah.<\/p>\n<p>Penguatan tata kelola program secara berkelanjutan dipandang mampu memastikan integrasi kebijakan pemenuhan gizi dan pengembangan ekonomi lokal berjalan optimal.<\/p>\n<p>Analis Kebijakan Ahli Muda Kementerian Kesehatan, Agus Triwinarto menilai pemanfaatan pangan lokal menjadi faktor kunci dalam menjamin keberlangsungan pasokan harian MBG. Keragaman pangan lokal, menurutnya, dapat memastikan menu MBG sesuai dengan kecukupan gizi sekaligus tetap aman dan higienis.<\/p>\n<p>\u201cDengan peningkatan keragaman pangan lokal, dan penjaminan keamanan pangan dan makanan higienis, MBG yang diberikan memang akan sesuai dengan kecukupan gizi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ketua Tim Kerja Gizi Kementerian Kesehatan, Yuni Zahraini menyatakan MBG merupakan bentuk intervensi strategis pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat secara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Program ini dirancang untuk menjangkau puluhan juta penerima manfaat setiap hari, termasuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi di bawah dua tahun.<\/p>\n<p>\u201cHarapannya melalui MBG ini, intervensi gizinya akan menggantikan satu kali porsi makan yang berkualitas. Didukung dengan MBG yang kaya protein hewani, program intervensi gizi ini bisa saling melengkapi,\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>Integrasi MBG dengan pangan lokal dinilai menjadi fondasi penting agar program ini tidak hanya berkelanjutan secara fiskal, tetapi juga mampu memperkuat ekonomi daerah dan kualitas gizi masyarakat secara simultan. #<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pakar Ekonomi Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin mengapresiasi langkah pemerintah dalam mengintegrasikan Program Makan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-43917","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43917","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=43917"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43917\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":43918,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/43917\/revisions\/43918"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=43917"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=43917"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=43917"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=43917"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}