{"id":44609,"date":"2026-02-21T16:36:07","date_gmt":"2026-02-21T16:36:07","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=44609"},"modified":"2026-02-21T16:36:08","modified_gmt":"2026-02-21T16:36:08","slug":"sekolah-garuda-terapkan-kurikulum-perkuat-talenta-sains-dan-tekonologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/02\/21\/sekolah-garuda-terapkan-kurikulum-perkuat-talenta-sains-dan-tekonologi\/","title":{"rendered":"Sekolah Garuda Terapkan Kurikulum Perkuat Talenta Sains dan Tekonologi"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani mengatakan Sekolah Garuda memiliki motivasi untuk memperkuat talenta-talenta terbaik bangsa dalam bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), yang harapannya dapat meningkatkan minat, memenuhi kebutuhan industri, serta menghadirkan ahli-ahli di bidang STEM.<\/p>\n<p>Menurut Najib, penguatan STEM menjadi salah satu alasan utama pendirian Sekolah Garuda. Ia menilai kebutuhan tenaga ahli sains dan teknologi di Indonesia tinggi, terutama untuk mendukung industrialisasi dan hilirisasi. Namun, minat dan ekosistem pendidikan STEM dinilai masih terbatas.<\/p>\n<p>\u201cLulusan perguruan tinggi kita belum didominasi bidang STEM, padahal kebutuhan industri sangat besar. Karena itu, ekosistemnya harus dimulai sejak SMA,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain itu, menurut Najib sekolah garuda dirancang dengan landasan yang ia sebut sebagai the one percent rule. Maksudnya adalah gagasan bahwa negara perlu memfasilitasi sekitar 1 persen siswa dengan kemampuan sangat unggul atau jenius dan sangat bertalenta yang selama ini dinilai belum mendapat dukungan optimal.<\/p>\n<p>\u201cSering kali ketika kita bicara inklusivitas, fokusnya pada kelompok difabel dan kelompok rentan lainnya. Tapi ada komponen masyarakat yang sering terlewat, yaitu anak-anak yang sangat berbakat. Mereka jumlahnya kecil, tetapi potensinya besar,\u201d kata Najib.<\/p>\n<p>Ia juga menyatakan Sekolah Garuda merupakan program strategis untuk mewujudkan pemerataan pembangunan pendidikan nasional.<\/p>\n<p>\u201cSekolah ini tidak dibangun di Pulau Jawa, melainkan ditempatkan di wilayah yang memiliki potensi besar namun masih menghadapi tantangan dalam akses serta percepatan pembangunan pendidikan. Kita yakin banyak potensi di daerah yang tidak kalah dengan yang ada di Jawa,\u201d ujar Najib.<\/p>\n<p>Senada, Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Ardi Findyartini mengatakan terdapat empat kurikulum unggulan yang membedakan SMA Unggul Garuda dengan sekolah lain pada umumnya.<\/p>\n<p>\u201cAkan ada empat kurikulum yang akan digunakan, diantaranya kurikulum penguatan STEM, kurikulum nasional, kurikulum pengembangan karakter peserta didik di sekolah berasrama, kurikulum Internasional,\u201d kata Ardi.<\/p>\n<p>Ke depan, lanjut dia, para lulusan juga dipersiapkan untuk mengikuti Program Beasiswa Garuda untuk dapat memberikan akses kepada seluruh talenta terbaik negeri tanpa melihat latar belakangnya untuk dapat bersaing di kancah global.<\/p>\n<p>\u201cProgram ini akan memberikan kesempatan kepada talenta terbaik, baik yang berada di Sekolah Umum maupun Sekolah Garuda untuk berkompetisi dan berkuliah sarjana di Luar Negeri,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dengan penerapan kurikulum inovatif ini, Sekolah Garuda diharapkan menjadi katalis dalam mencetak generasi unggul yang siap membawa Indonesia melangkah lebih maju di panggung global.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek), Ahmad Najib Burhani mengatakan Sekolah Garuda&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-44609","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44609"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44609\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44610,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44609\/revisions\/44610"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44609"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=44609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}