{"id":44691,"date":"2026-02-24T06:32:37","date_gmt":"2026-02-24T06:32:37","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=44691"},"modified":"2026-02-24T06:32:38","modified_gmt":"2026-02-24T06:32:38","slug":"insentif-sppg-mbg-dibayar-sesuai-hari-operasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/02\/24\/insentif-sppg-mbg-dibayar-sesuai-hari-operasional\/","title":{"rendered":"Insentif SPPG\u2013MBG Dibayar Sesuai Hari Operasional"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta\u2014Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan mekanisme insentif bagi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dibayarkan secara adil dan terukur, mengikuti hari operasional. Skema ini dinilai memperkuat kepastian layanan, menjaga kesiapan dapur gizi, sekaligus memastikan uang negara bekerja efektif untuk kebutuhan anak Indonesia.<\/p>\n<p>Wakil Kepala BGN Sony Sanjaya menjelaskan, operasional SPPG dihitung enam hari kerja dalam sepekan.<\/p>\n<p>\u201cOperasional SPPG dihitung enam hari kerja, sedangkan pada hari Minggu tidak ada pembayaran insentif,\u201d ujarnya saat dikonfirmasi di Jakarta.<\/p>\n<p>Dengan demikian, pembayaran benar-benar selaras dengan ritme layanan di lapangan ketika SPPG beroperasi, insentif berjalan; ketika Minggu, tidak dihitung sebagai hari operasional.<\/p>\n<p>BGN juga menerangkan bahwa pada hari libur nasional yang jatuh pada hari kerja, insentif tetap dibayarkan berdasarkan prinsip standby readiness atau kesiapsiagaan fasilitas. Sony menekankan, kesiapsiagaan ini penting karena ekosistem SPPG bukan hanya dapur sekolah, melainkan simpul layanan gizi yang harus selalu siap membantu masyarakat.<\/p>\n<p>\u201cMeskipun siswa libur, fasilitas, sistem pengawasan, dan tenaga ahli tetap harus siap siaga apabila sewaktu-waktu diperlukan untuk intervensi gizi darurat,\u201d kata Sony.<\/p>\n<p>Ia mencontohkan saat bencana banjir dan longsor melanda Aceh serta Sumatra pada akhir 2025, SPPG dapat dialihfungsikan menjadi dapur darurat untuk kebutuhan komunal.<\/p>\n<p>\u201cPembayaran tersebut merupakan retensi kesiapan fasilitas, serupa dengan sistem sewa properti komersial yang tidak berhenti karena hari libur,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Hal ini menegaskan bahwa insentif bukan sekadar biaya operasional harian, melainkan juga investasi negara agar fasilitas gizi selalu siap digunakan kapan pun dibutuhkan.<\/p>\n<p>Dalam Petunjuk Teknis Tata Kelola Program MBG Tahun Anggaran 2026, insentif fasilitas SPPG ditetapkan Rp6 juta per hari bagi mitra penyedia fasilitas, berlaku selama enam hari dalam sepekan. Skema ini memberi kepastian bagi mitra untuk menjaga standar layanan, merawat peralatan, menyiapkan bahan, serta memastikan proses pengawasan berjalan konsisten.<\/p>\n<p>BGN membuka kesempatan luas bagi swasta, koperasi, Bumdes, hingga yayasan yang memiliki kapasitas investasi dan lahan sesuai zonasi untuk bergabung sebagai mitra, sehingga pemerataan layanan dapat dipercepat. Menurut BGN, kemitraan ini mendorong lahirnya rantai pasok pangan segar dari petani dan pelaku UMKM setempat.<\/p>\n<p>\u201cKepentingan utamanya adalah gizi anak Indonesia,\u201d tegas Sony.<\/p>\n<p>Melalui standar seragam, layanan higienis, aman, dan tepat sasaran nasional.<\/p>\n<p>BGN menegaskan seleksi mitra dilakukan terbuka dan profesional.<\/p>\n<p>\u201cProgram MBG dibangun dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi fiskal,\u201d ujar Sony.<\/p>\n<p>Dengan tata kelola yang jelas, pembayaran berbasis hari operasional, dan kesiapsiagaan pada hari libur nasional, BGN optimistis MBG kian solid sebagai program strategis yang memperkuat ketahanan gizi anak, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui kemitraan yang sehat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta\u2014Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan mekanisme insentif bagi mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-44691","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44691","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44691"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44691\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44692,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44691\/revisions\/44692"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44691"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=44691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}