{"id":44840,"date":"2026-02-28T20:28:20","date_gmt":"2026-02-28T20:28:20","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=44840"},"modified":"2026-02-28T20:28:22","modified_gmt":"2026-02-28T20:28:22","slug":"pemerintah-percepat-program-hilirisasi-untuk-dorong-pertumbuhan-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/02\/28\/pemerintah-percepat-program-hilirisasi-untuk-dorong-pertumbuhan-ekonomi\/","title":{"rendered":"Pemerintah Percepat Program Hilirisasi untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pemerintah mempercepat pelaksanaan program hilirisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat struktur industri nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis nilai tambah. Upaya ini ditandai dengan dimulainya 18 proyek hilirisasi pada tahun 2026 serta penguatan dukungan pembiayaan dan kolaborasi lintas sektor, baik di tingkat pusat maupun daerah.<\/p>\n<p>Komitmen tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memaparkan capaian hilirisasi dalam forum Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Presiden menegaskan bahwa percepatan hilirisasi menjadi kunci transformasi ekonomi nasional.<\/p>\n<p>\u201cKami baru saja memulai 18 proyek hilirisasi tahun ini,\u201d ujar Prabowo.<\/p>\n<p>Menurutnya, proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari strategi besar untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, membuka lapangan kerja, serta memperkuat fondasi industri pengolahan di dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan proyek waste to energy senilai 3 miliar dolar AS guna mendukung pengelolaan lingkungan dan ketahanan energi nasional.<\/p>\n<p>Presiden menilai penguatan industri pengolahan akan mengangkat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.<\/p>\n<p>\u201cKami melakukan percepatan di berbagai sektor, dan kami menilai Indonesia tidak hanya menjadi pasar potensial bagi perusahaan-perusahaan Amerika, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai pusat produksi serta mitra strategis yang kuat di kawasan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Untuk mendukung pembiayaan dan percepatan implementasi, pemerintah menugaskan Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia sebagai motor utama. CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa hilirisasi merupakan agenda strategis nasional.<\/p>\n<p>\u201cPada tahap awal, proyek-proyek ini ditargetkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui peningkatan nilai tambah sektor industri serta pembukaan lapangan kerja,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dukungan juga datang dari daerah. Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, optimistis proyek hilirisasi alumina\u2013aluminium terpadu di Kabupaten Mempawah dan Landak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.<\/p>\n<p>\u201cProyek ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, khususnya di wilayah Mempawah dan Landak,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, \u201cMasyarakat lokal tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus dapat berperan sebagai tenaga kerja terampil bahkan menduduki posisi manajerial di perusahaan tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Di wilayah lain, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat turut mempercepat hilirisasi komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota. Gubernur Mahyeldi menegaskan pentingnya pengolahan gambir menjadi produk turunan bernilai tambah tinggi seperti katekin.<\/p>\n<p>\u201cTidak hanya Pemkab Lima Puluh Kota yang perlu gerak cepat, tetapi juga Pemkab Pesisir Selatan agar rencana hilirisasi komoditas gambir ini bisa berjalan di tahun 2026,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, program hilirisasi diharapkan menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdaya saing global.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Pemerintah mempercepat pelaksanaan program hilirisasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat struktur industri nasional&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-44840","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44840"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44840\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44841,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44840\/revisions\/44841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44840"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=44840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}