{"id":45203,"date":"2026-03-08T08:51:54","date_gmt":"2026-03-08T08:51:54","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=45203"},"modified":"2026-03-08T08:51:55","modified_gmt":"2026-03-08T08:51:55","slug":"ramadan-jadi-momentum-perkuat-toleransi-dan-kewaspadaan-terhadap-teror","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/03\/08\/ramadan-jadi-momentum-perkuat-toleransi-dan-kewaspadaan-terhadap-teror\/","title":{"rendered":"Ramadan Jadi Momentum Perkuat Toleransi dan Kewaspadaan terhadap Teror"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Bulan suci Ramadan menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk memperkuat nilai toleransi, solidaritas, serta menjaga persatuan di tengah keberagaman. Selain meningkatkan kualitas ibadah, Ramadan juga menjadi ruang mempererat persaudaraan dan meneguhkan komitmen bersama dalam menolak segala bentuk radikalisme dan intoleransi yang berpotensi mengganggu harmoni sosial.<\/p>\n<p>Sejumlah pihak menilai bahwa semangat kebersamaan yang tumbuh selama Ramadan dapat menjadi fondasi kuat dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat. Dengan saling menghormati perbedaan serta memperkuat kepedulian terhadap sesama, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang damai dan kondusif.<\/p>\n<p>banner 336\u00d7280<br \/>\nMenteri Agama, Nasaruddin Umar, mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai kesempatan untuk memperkuat solidaritas sosial serta menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman. Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan dalam Ramadan sangat relevan untuk memperkuat toleransi dan menjaga kerukunan.<\/p>\n<p>\u201cRamadan harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempererat solidaritas sosial dan membangun kepedulian terhadap sesama. Keberkahan bulan suci ini hendaknya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Perbedaan yang ada sebaiknya dipandang sebagai rahmat yang memperkaya kehidupan kita, bukan sebagai pemisah,\u201d ujar Nasaruddin Umar.<\/p>\n<p>Ia juga menekankan bahwa toleransi merupakan salah satu nilai penting yang harus terus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk memperkuat semangat persaudaraan serta meningkatkan kualitas kebersamaan di tengah masyarakat.<\/p>\n<p>Di sisi lain, upaya menjaga keamanan juga terus diperkuat agar masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idulfitri dengan aman. Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana, menyampaikan bahwa pihaknya meningkatkan pengawasan terhadap potensi ancaman teror sebagai langkah antisipatif.<\/p>\n<p>\u201cSebagaimana arahan Kapolri, situasi global saat ini tengah mengalami dinamika yang cukup kompleks. Oleh karena itu, Densus 88 meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap potensi ancaman teror agar keamanan masyarakat tetap terjaga,\u201d kata Kombes Pol. Mayndra Eka Wardhana<\/p>\n<p>Arahan tersebut sejalan dengan penekanan Kapolri, Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, dalam rapat koordinasi kesiapan Operasi Ketupat 2026. Kapolri menegaskan pentingnya mempertahankan capaian zero terrorist attack yang selama ini berhasil dijaga, khususnya menjelang momentum mudik dan perayaan Lebaran.<\/p>\n<p>\u201cCapaian zero terrorist attack harus kita pertahankan bersama. Kondisi geopolitik global yang berkembang perlu diantisipasi secara serius agar tidak berdampak pada stabilitas keamanan di dalam negeri,\u201d tegas Kapolri.<\/p>\n<p>Kapolri juga meminta seluruh jajaran untuk memperkuat koordinasi dengan TNI, dan pemerintah daerah guna memastikan situasi keamanan tetap kondusif. Melalui penguatan toleransi di masyarakat serta peningkatan kewaspadaan aparat, diharapkan Ramadan dapat menjadi momentum mempererat persatuan sekaligus menjaga Indonesia tetap aman dari ancaman teror.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Bulan suci Ramadan menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk memperkuat nilai toleransi, solidaritas,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-45203","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45203","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45203"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45203\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45204,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45203\/revisions\/45204"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45203"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45203"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45203"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=45203"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}