{"id":45638,"date":"2026-03-20T14:23:26","date_gmt":"2026-03-20T14:23:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=45638"},"modified":"2026-03-20T14:23:26","modified_gmt":"2026-03-20T14:23:26","slug":"persatuan-diperkuat-masyarakat-papua-hadang-provokasi-demi-kelancaran-pembangunan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/03\/20\/persatuan-diperkuat-masyarakat-papua-hadang-provokasi-demi-kelancaran-pembangunan\/","title":{"rendered":"Persatuan Diperkuat, Masyarakat Papua Hadang Provokasi Demi Kelancaran Pembangunan"},"content":{"rendered":"<p>PAPUA \u2013 Stabilitas keamanan di Papua terus menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan yang merata dan inklusif. Dalam beberapa tahun terakhir, percepatan pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan kesehatan di berbagai wilayah, khususnya kawasan pegunungan, menunjukkan progres yang signifikan. Kondisi ini semakin diperkuat oleh sikap masyarakat yang kian dewasa dalam menyikapi berbagai dinamika sosial, termasuk upaya provokasi dari kelompok separatis seperti KNPB.<\/p>\n<p>Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat adat Papua menunjukkan keteguhan dalam menjaga harmoni sosial. Kesadaran kolektif tumbuh sebagai benteng utama dalam menyaring informasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Penolakan terhadap provokasi KNPB menjadi cerminan komitmen masyarakat dalam menjaga keamanan serta mendukung percepatan pembangunan yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Tokoh masyarakat adat Kabupaten Tolikara, Karmin Yikwa, menilai bahwa aktivitas KNPB kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat dan tidak mencerminkan aspirasi mayoritas warga. \u201cNarasi yang dibangun KNPB tidak sesuai dengan keinginan masyarakat yang mendambakan kedamaian dan kemajuan. Masyarakat di Tolikara secara tegas menolak provokasi tersebut karena hanya akan menghambat pembangunan,\u201d tegas Karmin Yikwa.<\/p>\n<p>Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi pembangunan. Ketegangan yang dipicu oleh provokasi dinilai hanya akan merugikan masyarakat sendiri, terutama dalam menghambat akses terhadap layanan dasar.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Karmin Yikwa menekankan pentingnya tanggung jawab moral setiap individu dalam menjaga tanah Papua dari pengaruh negatif. \u201cSetiap elemen masyarakat memiliki peran menjaga persaudaraan dan tidak terpengaruh propaganda yang memecah belah. Masa depan Papua harus dibangun dengan kerja nyata, bukan konflik,\u201d pungkas Karmin Yikwa.<\/p>\n<p>Seruan tersebut juga menyasar generasi muda agar lebih fokus pada peningkatan kapasitas diri melalui pendidikan dan kontribusi positif di lingkungan masing-masing.<br \/>\nSenada dengan itu, Kepala Suku Besar Tariko Kabupaten Mamberamo Tengah, Soleman Wambu, menegaskan bahwa stabilitas keamanan merupakan kebutuhan mendasar bagi masyarakat adat. \u201cSituasi aman dan damai menjadi syarat utama agar pembangunan berjalan optimal. Karena itu, masyarakat menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi memicu konflik,\u201d ujar Soleman Wambu.<\/p>\n<p>Pernyataan tersebut menggambarkan adanya kesamaan pandangan di berbagai wilayah Papua terkait pentingnya menjaga kondusivitas sosial.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PAPUA \u2013 Stabilitas keamanan di Papua terus menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-45638","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45638","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45638"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45638\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45639,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45638\/revisions\/45639"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45638"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45638"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45638"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=45638"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}