{"id":46096,"date":"2026-04-03T22:53:41","date_gmt":"2026-04-03T22:53:41","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=46096"},"modified":"2026-04-03T22:53:42","modified_gmt":"2026-04-03T22:53:42","slug":"mbg-jadi-instrumen-pemerataan-pendidikan-bermutu-di-daerah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/04\/03\/mbg-jadi-instrumen-pemerataan-pendidikan-bermutu-di-daerah\/","title":{"rendered":"MBG Jadi Instrumen Pemerataan Pendidikan Bermutu di Daerah"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : Abdul Razak)*<\/p>\n<p>Upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bermutu kini semakin diperkuat melalui implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang menjadi salah satu prioritas nasional di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga bertransformasi menjadi instrumen strategis untuk mendorong pemerataan kualitas pendidikan, khususnya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).<\/p>\n<p>Kebijakan terbaru pemerintah menunjukkan keberpihakan nyata terhadap daerah dengan tantangan gizi yang masih tinggi. MBG bagi anak sekolah di wilayah 3T kini akan diberikan hingga enam hari dalam sepekan. Bahkan, penyaluran tambahan pada hari Sabtu diterapkan khusus di wilayah dengan risiko stunting tinggi sebagai langkah afirmatif untuk memastikan kecukupan gizi anak tetap terjaga.<\/p>\n<p>Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan hasil penguatan program yang dibahas dalam rapat koordinasi tingkat tinggi bersama Presiden. Ia menyampaikan bahwa pemberian MBG pada hari Sabtu di daerah dengan risiko stunting tinggi merupakan langkah strategis untuk memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup setiap hari.<\/p>\n<p>Secara umum, pelaksanaan MBG mengikuti hari sekolah, yakni lima hari dalam sepekan. Namun, pemerintah menerapkan pendekatan khusus di wilayah rentan agar distribusi tetap berjalan meskipun di luar hari sekolah. Pendekatan ini menegaskan bahwa program MBG tidak sekadar mengikuti ritme pendidikan formal, melainkan berorientasi pada kebutuhan riil anak sebagai peserta didik sekaligus generasi masa depan.<\/p>\n<p>Lebih jauh, Dadan Hindayana menekankan bahwa implementasi kebijakan ini berbasis pada data yang terukur dan akurat. Penetapan wilayah prioritas mengacu pada hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang memetakan daerah dengan tingkat risiko stunting tinggi. Ia menyebutkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan dinas pendidikan dan kesehatan daerah untuk memastikan validitas data sehingga program dapat tepat sasaran.<\/p>\n<p>Pendataan yang dilakukan mencakup jumlah sekolah, jumlah siswa, hingga prevalensi stunting di masing-masing wilayah. Sejumlah daerah di Indonesia bagian timur serta beberapa wilayah di Sumatera dan Papua menjadi prioritas utama mengingat masih tingginya tantangan pemenuhan gizi di kawasan tersebut. Dadan juga menegaskan bahwa integritas data menjadi kunci keberhasilan program karena berkaitan langsung dengan kesehatan dan masa depan generasi muda, serta memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam pemenuhan gizi.<\/p>\n<p>Langkah konkret pemerintah pusat tersebut turut direspons aktif oleh pem<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Abdul Razak)* Upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bermutu kini semakin diperkuat melalui&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-46096","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46096","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46096"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46096\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46097,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46096\/revisions\/46097"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46096"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46096"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46096"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=46096"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}