{"id":46436,"date":"2026-04-12T13:40:24","date_gmt":"2026-04-12T13:40:24","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=46436"},"modified":"2026-04-12T13:40:25","modified_gmt":"2026-04-12T13:40:25","slug":"optimisme-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-tetap-terjaga-di-tengah-dinamika-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/04\/12\/optimisme-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-tetap-terjaga-di-tengah-dinamika-global\/","title":{"rendered":"Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Global"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap menunjukkan sinyal positif. Berbagai indikator menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan, meskipun tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, dan kehati-hatian investor global terus membayangi.<\/p>\n<p>Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan pihaknya optimis terhadap performa ekonomi nasional ke depan. Menurutnya, Indonesia memiliki modalitas yang cukup kuat untuk menepis dampak perlambatan ekonomi global melalui penguatan mesin ekonomi di dalam negeri.<\/p>\n<p>\u201cPertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berpotensi melampaui proyeksi Bank Dunia, meskipun sulit mencapai lima persen,\u201d ujar Wijayanto.<\/p>\n<p>Bank Dunia sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Namun, Wijayanto memperkirakan pertumbuhan pada kuartal I 2026 bisa mencapai 5,5 persen berkat dukungan faktor musiman seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran.<\/p>\n<p>Namun demikian, tekanan ekonomi diprediksi meningkat pada kuartal II hingga IV, dipengaruhi oleh penurunan daya beli, pelemahan nilai tukar, peningkatan inflasi, dan ketidakpastian global yang membuat investor bersikap wait and see. Potensi El Nino juga dapat memperburuk situasi ekonomi.<\/p>\n<p>Menurut Wijayanto, pertumbuhan ekonomi pada 2026 sangat bergantung pada konsumsi domestik karena dorongan dari komponen lain seperti investasi, belanja pemerintah, dan ekspor diperkirakan terbatas.<\/p>\n<p>\u201cBeberapa sektor yang diprediksi menjadi penggerak pertumbuhan meliputi perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel,\u201d kata Wijayanto.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Dunia. Ia menyebutkan bahwa penurunan tersebut wajar di tengah ketegangan geopolitik global yang memengaruhi banyak negara. Airlangga menilai proyeksi tersebut masih optimistis karena berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang 3,4 persen.<\/p>\n<p>Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 menyatakan perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak global dan kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional. Meski demikian, Indonesia masih memiliki penyangga ekonomi seperti ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.<\/p>\n<p>Pemerintah optimistis bahwa Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan di ata<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-46436","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46436","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46436"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46436\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46437,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46436\/revisions\/46437"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46436"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46436"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46436"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=46436"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}