{"id":46615,"date":"2026-04-17T14:20:52","date_gmt":"2026-04-17T14:20:52","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=46615"},"modified":"2026-04-17T14:20:53","modified_gmt":"2026-04-17T14:20:53","slug":"sekolah-rakyat-dan-harapan-baru-pendidikan-bermutu-bagi-anak-dari-keluarga-pekerja-informal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/04\/17\/sekolah-rakyat-dan-harapan-baru-pendidikan-bermutu-bagi-anak-dari-keluarga-pekerja-informal\/","title":{"rendered":"Sekolah Rakyat dan Harapan Baru Pendidikan Bermutu bagi Anak dari Keluarga Pekerja Informal"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : Garvin Reviano )*<\/p>\n<p>Sekolah Rakyat hadir sebagai harapan baru dalam lanskap pendidikan nasional, khususnya bagi anak-anak dari keluarga pekerja informal yang selama ini kerap berada di pinggiran akses pendidikan bermutu. Di tengah dinamika ekonomi yang tidak selalu stabil, kelompok pekerja informal, mulai dari pedagang kecil, buruh harian, hingga pekerja lepas, sering kali menghadapi keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak secara optimal. Dalam konteks inilah, Sekolah Rakyat menjadi jawaban konkret atas kebutuhan akan sistem pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkeadilan.<\/p>\n<p>Konsep Sekolah Rakyat tidak sekadar menghadirkan ruang belajar, tetapi juga membawa semangat pemerataan kualitas pendidikan. Ia dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sulit tersentuh oleh layanan pendidikan formal yang ideal. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual, Sekolah Rakyat membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga pekerja informal untuk mendapatkan pendidikan yang tidak hanya layak, tetapi juga relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.<\/p>\n<p>Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengatakan Sekolah Rakyat akan mendapatkan pembelajaran terbaik melalui dukungan guru-guru berkualitas. Para pendidik tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang mampu memahami latar belakang sosial dan ekonomi siswa, sehingga proses belajar dapat berlangsung secara inklusif, adaptif, dan berorientasi pada pengembangan potensi setiap anak secara optimal.<\/p>\n<p>Selain itu, Sekolah Rakyat juga menjadi simbol keberpihakan negara terhadap kelompok rentan. Selama ini, kesenjangan pendidikan masih menjadi tantangan yang nyata, di mana akses terhadap sekolah berkualitas sering kali bergantung pada kondisi ekonomi keluarga. Dengan hadirnya Sekolah Rakyat, negara menunjukkan komitmennya untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Ini adalah langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia unggul yang menjadi fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.<\/p>\n<p>Selain aspek akses, Sekolah Rakyat juga menekankan pada kualitas pembelajaran. Kurikulum yang diterapkan dirancang agar tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter, keterampilan hidup, dan literasi dasar yang esensial. Anak-anak diajak untuk belajar secara aktif, kreatif, dan kritis, sehingga mereka tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga mampu mengolah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Pendekatan ini sangat relevan bagi anak-anak dari keluarga pekerja informal yang sejak dini sudah akrab dengan dinamika kehidupan yang men<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Garvin Reviano )* Sekolah Rakyat hadir sebagai harapan baru dalam lanskap pendidikan nasional,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-46615","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46615","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46615"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46615\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46616,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46615\/revisions\/46616"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46615"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46615"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46615"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=46615"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}