{"id":46652,"date":"2026-04-18T00:38:58","date_gmt":"2026-04-18T00:38:58","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=46652"},"modified":"2026-04-18T00:39:00","modified_gmt":"2026-04-18T00:39:00","slug":"pasokan-energi-dalam-negeri-stabil-meski-situasi-global-memanas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/04\/18\/pasokan-energi-dalam-negeri-stabil-meski-situasi-global-memanas\/","title":{"rendered":"Pasokan Energi Dalam Negeri Stabil Meski Situasi Global Memanas"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Pasokan energi dalam negeri dipastikan tetap stabil di tengah meningkatnya eskalasi konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara besar. Pemerintah dinilai telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif sejak dini guna menjaga ketahanan energi nasional, baik dari sisi pasokan maupun stabilitas harga.<\/p>\n<p>Tenaga Ahli Utama Bakom RI, Fithra Faisal menegaskan bahwa kondisi saat ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan, melainkan telah diantisipasi pemerintah sejak jauh hari. <\/p>\n<p>\u201cPemerintah sudah menyiapkan berbagai skenario, mulai dari aspek harga, pasokan, hingga kemungkinan durasi konflik. Bahkan sejak tahun lalu, Presiden telah mengingatkan pentingnya kewaspadaan menghadapi dinamika global,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan bahwa strategi pembangunan nasional memang dirancang untuk menghadapi berbagai risiko global, termasuk melalui penguatan ketahanan energi, pangan, dan air. Hal tersebut sejalan dengan agenda besar pemerintah dalam menciptakan fondasi ekonomi yang tangguh. <\/p>\n<p>\u201cDesain kebijakan kita memang disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk, sehingga dalam kondisi saat ini Indonesia tetap berada dalam posisi yang relatif stabil dan tangguh dibandingkan banyak negara lain,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, Fithra Faisal menyebut Indonesia termasuk dalam kategori \u201clow exposure\u201d dan \u201cstrong buffer\u201d dalam menghadapi tekanan geopolitik global. Hal ini didukung oleh diversifikasi sumber energi yang tidak bergantung pada satu kawasan saja, serta penguatan bauran energi nasional, termasuk pengembangan biofuel. <\/p>\n<p>\u201cKita tidak hanya bergantung pada satu sumber energi, dan ke depan bahkan ada potensi peningkatan dari B40 ke B50. Ini menunjukkan resiliensi energi kita semakin kuat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Dari sisi pasokan, ia memastikan ketersediaan energi nasional tetap terjaga melalui sistem penyimpanan dan pengisian ulang (replenishment) yang berjalan efektif. Selain itu, kerja sama dengan negara mitra seperti Singapura dan Malaysia turut memperkuat cadangan energi nasional. <\/p>\n<p>\u201cKapasitas nasional kita memang sekitar 25 hari, tetapi itu didukung oleh sistem pengisian berkelanjutan, sehingga pasokan tetap aman,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Terkait harga, pemerintah juga berkomitmen menjaga stabilitas dengan tidak melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), baik subsidi maupun non-subsidi. Kebijakan ini diambil untuk melindungi daya beli masyarakat dari tekanan eksternal. <\/p>\n<p>\u201cPemerintah berupaya menahan dampak gejolak global agar tidak langsung dirasakan masyarakat, sehingga harga BBM tetap stabil hingga akhir tahun,\u201d ujar Fithra Faisal.<\/p>\n<p>Ia pun mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir secara berlebihan terhadap kondisi global saat ini. Menurutnya, berbagai langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah menunjukkan kesiapan dalam menjaga stabilitas nasional. <\/p>\n<p>\u201cMasyarakat tidak perlu panik, karena stok energi kita aman dan kebijakan yang diambil pemerintah sudah sangat terukur,\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta &#8211; Pasokan energi dalam negeri dipastikan tetap stabil di tengah meningkatnya eskalasi konflik global,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-46652","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46652"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46652\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46653,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46652\/revisions\/46653"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46652"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=46652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}