{"id":46759,"date":"2026-04-19T08:27:15","date_gmt":"2026-04-19T08:27:15","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=46759"},"modified":"2026-04-19T08:27:16","modified_gmt":"2026-04-19T08:27:16","slug":"ketahanan-pangan-indonesia-menguat-di-tengah-tekanan-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/04\/19\/ketahanan-pangan-indonesia-menguat-di-tengah-tekanan-global\/","title":{"rendered":"Ketahanan Pangan Indonesia Menguat di Tengah Tekanan Global"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Ketegangan geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah terus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pangan dunia.<\/p>\n<p>Eskalasi konflik, gangguan jalur logistik, serta ketidakpastian perdagangan internasional dinilai berpotensi menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga pangan di tingkat global.<\/p>\n<p>Bahkan, Rusia telah mendorong pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS sebagai langkah antisipatif terhadap potensi krisis.<\/p>\n<p>Di tengah tekanan tersebut, Indonesia mencatat penguatan signifikan pada sektor ketahanan pangan nasional.<\/p>\n<p>Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah mencapai 4,7 juta ton, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah, dan terus bergerak menuju angka 5 juta ton.<\/p>\n<p>Sementara itu, ketersediaan beras di pasar domestik dan sektor hotel, restoran, dan katering (HoReCa) tercatat sekitar 12 juta ton, ditopang potensi produksi dari standing crop hingga akhir tahun.<\/p>\n<p>Kombinasi tiga lapisan ketersediaan tersebut dinilai mampu menjamin kebutuhan pangan nasional hingga 11 bulan ke depan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah tekanan global.<\/p>\n<p>Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan cadangan pangan merupakan langkah strategis yang telah dipersiapkan sejak awal.<\/p>\n<p>\u0093Sejak awal, pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan sudah ditekankan sebagai strategi menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian,\u0094 ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, posisi cadangan saat ini mencerminkan kesiapan Indonesia menghadapi berbagai skenario krisis.<\/p>\n<p>\u0093Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan,\u0094 tegasnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, dinamika global yang tidak menentu menuntut penguatan produksi dalam negeri dan kemandirian pasokan.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memperkuat peran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas pangan, terutama di tengah ancaman perubahan iklim dan potensi El Nino.<\/p>\n<p>Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menekankan pentingnya menjaga rantai pasok secara menyeluruh.<\/p>\n<p>\u0093Urusan pangan ini mulai dari penyediaannya sampai tiba di meja masyarakat harus kita jaga dengan baik,\u0094 ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga mengingatkan pentingnya pengendalian konsumsi masyarakat.<\/p>\n<p>\u0093Kita harus bijak dalam mengonsumsi dan berbelanja pangan. Jangan panic buying karena dampaknya besar,\u0094 katanya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan kondisi pangan nasional tetap stabil di tengah dinamika global.<\/p>\n<p>\u0093Kita sudah swasembada pangan. Walaupun ada tekanan global, untuk kebutuhan makan tetap aman,\u0094 ujarnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Ketegangan geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah terus meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-46759","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46759","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46759"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46759\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46760,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46759\/revisions\/46760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46759"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46759"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46759"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=46759"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}