{"id":46961,"date":"2026-04-23T05:51:15","date_gmt":"2026-04-23T05:51:15","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=46961"},"modified":"2026-04-23T05:51:17","modified_gmt":"2026-04-23T05:51:17","slug":"relaunching-amanah-dorong-hilirisasi-dan-ekosistem-kreatif-pemuda-aceh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/04\/23\/relaunching-amanah-dorong-hilirisasi-dan-ekosistem-kreatif-pemuda-aceh\/","title":{"rendered":"Relaunching AMANAH Dorong Hilirisasi dan Ekosistem Kreatif Pemuda Aceh"},"content":{"rendered":"<p>Aceh \u2014 Upaya mendorong hilirisasi industri kreatif sebagai strategi peningkatan nilai tambah ekonomi menjadi sorotan dalam Relaunching Anak Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) bertema \u201cSinergi Muda Berdaya: Menciptakan Ekosistem Kreatif Anak Muda Aceh Unggul dan Hebat Menuju Indonesia Mandiri.\u201d Momentum ini sekaligus menegaskan peran pemuda Aceh dalam memperkuat daya saing ekonomi berbasis kreativitas.<\/p>\n<p>Kegiatan ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri kreatif, akademisi, hingga komunitas pemuda, sebagai bentuk komitmen bersama membangun ekosistem kreatif yang kolaboratif dan berkelanjutan di Aceh.<\/p>\n<p>Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa AMANAH sejalan dengan arah pembangunan nasional. \u201cMengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif, AMANAH memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda yang kompeten,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa industri kreatif menjadi sektor penting dalam menciptakan lapangan kerja berbasis keterampilan. \u201cIndustri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis skill yang harus terus diasah. Kehadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Selain itu, ia menyoroti pentingnya hilirisasi ekonomi kreatif. \u201cAsta Cita poin ke-5 menekankan pentingnya hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi. Hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif,\u201d tegasnya. Ia menjelaskan bentuk hilirisasi tersebut, seperti fashion asing menjadi produk lokal, parfum asing menjadi produk lokal, film asing menjadi produksi lokal, hingga aplikasi asing menjadi karya lokal.<\/p>\n<p>\u201cTarget utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Gubernur Aceh menyampaikan bahwa relaunching ini juga menandai peresmian gedung AMANAH sebagai pusat kolaborasi. \u201cRelaunching AMANAH menjadi momentum peresmian gedung sebagai pusat kegiatan bersama yang mendukung kolaborasi lintas sektor di Aceh,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>\u201cGedung AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Momen ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Sementara Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menyebut relaunching ini sebagai langkah konsolidasi. \u201cRelaunching AMANAH menjadi momentum strategis konsolidasi pengurus dan badan pekerja dalam memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Melalui sinergi yang kuat, AMANAH diharapkan menjadi katalis lahirnya generasi muda Aceh yang kreatif dan mampu bersaing di tingkat global. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aceh \u2014 Upaya mendorong hilirisasi industri kreatif sebagai strategi peningkatan nilai tambah ekonomi menjadi sorotan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-46961","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46961","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=46961"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46961\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":46962,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/46961\/revisions\/46962"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=46961"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=46961"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=46961"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=46961"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}