{"id":48265,"date":"2026-05-27T01:37:26","date_gmt":"2026-05-27T01:37:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=48265"},"modified":"2026-05-27T01:37:27","modified_gmt":"2026-05-27T01:37:27","slug":"rupiah-dan-resiliensi-ekonomi-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/05\/27\/rupiah-dan-resiliensi-ekonomi-nasional\/","title":{"rendered":"Rupiah dan Resiliensi Ekonomi Nasional"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Alexandro Dimitri*)<\/p>\n<p>Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan arah kebijakan moneter negara-negara maju, ketahanan ekonomi Indonesia kembali diuji. Salah satu indikator yang paling sering menjadi perhatian publik adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Setiap kali rupiah mengalami tekanan, muncul kekhawatiran mengenai stabilitas ekonomi nasional. Namun jika dicermati lebih mendalam, kondisi Indonesia saat ini justru menunjukkan fondasi yang relatif kuat untuk menghadapi berbagai gejolak eksternal.<\/p>\n<p>Ketahanan rupiah pada hakikatnya tidak berdiri sendiri. Kekuatan mata uang nasional sangat bergantung pada kondisi ekonomi riil, daya beli masyarakat, aktivitas investasi, serta kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian. Dalam konteks tersebut, berbagai indikator ekonomi terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk menjaga stabilitas di tengah lingkungan global yang menantang.<\/p>\n<p>Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I tahun 2026 mencapai 5,61 persen, salah satu capaian terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, motor utama pertumbuhan tersebut berasal dari konsumsi rumah tangga yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai kondisi ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi domestik terus bergerak positif. Selain konsumsi masyarakat, investasi dan belanja pemerintah juga memberikan kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan kata lain, kekuatan ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada satu sektor, melainkan ditopang oleh beberapa mesin pertumbuhan yang berjalan secara simultan.<\/p>\n<p>Pandangan tersebut menjadi penting karena daya beli yang kuat merupakan fondasi utama stabilitas ekonomi dan nilai tukar. Ketika konsumsi rumah tangga tetap tumbuh, dunia usaha memperoleh kepastian pasar, investasi terus bergerak, dan penerimaan negara meningkat. Dalam beberapa kesempatan, Purbaya juga menyampaikan optimisme bahwa ekonomi Indonesia tetap berada dalam fase ekspansi meskipun dunia menghadapi tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara besar. Optimisme tersebut bukan sekadar narasi, melainkan didukung data pertumbuhan, peningkatan aktivitas ekonomi domestik, serta kinerja fiskal yang tetap terjaga.<\/p>\n<p>Fondasi ekonomi yang kuat kemudian diperkuat oleh kebijakan moneter dan makroprudensial yang dijalankan Bank Indonesia. Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Dhaha P. Kuantan, menjelaskan bahwa setelah penyesuaian suku bunga acuan, fokus Bank Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tetapi juga memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal. Menurutnya, penguatan sektor perbankan menjadi langkah strategis agar penyaluran kredit kepada dunia usaha dan masyarakat tetap terjaga.<\/p>\n<p>Pendekatan tersebut menunjukkan keseimbangan kebijakan yang penting. Di satu sisi, Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi untuk meredam tekanan eksternal terhadap rupiah. Di sisi lain, sektor keuangan tetap didorong agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi melalui penyaluran pembiayaan produktif. Kebijakan makroprudensial yang akomodatif menjadi instrumen untuk memastikan bahwa momentum pertumbuhan tidak terganggu hanya karena meningkatnya ketidakpastian global. Dengan perbankan yang sehat dan kredit yang tetap tumbuh, aktivitas ekonomi domestik memiliki bantalan yang cukup kuat ketika terjadi tekanan dari luar negeri.<\/p>\n<p>Selanjutnya, upaya memperkuat ketahanan rupiah juga dilakukan melalui pendalaman pasar keuangan dan pengurangan ketergantungan terhadap mata uang asing dalam transaksi internasional. Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, menyoroti semakin luasnya implementasi transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dengan negara-negara mitra. Menurutnya, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi memberikan manfaat besar karena mengurangi kebutuhan penggunaan dolar Amerika Serikat sebagai mata uang perantara.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Alexandro Dimitri*) Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-48265","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48265","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48265"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48265\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48266,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48265\/revisions\/48266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48265"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48265"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48265"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=48265"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}