{"id":48391,"date":"2026-05-30T22:12:31","date_gmt":"2026-05-30T22:12:31","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=48391"},"modified":"2026-05-30T22:12:33","modified_gmt":"2026-05-30T22:12:33","slug":"sistem-interkoneksi-listrik-sumatra-kembali-normal-disertai-evaluasi-dan-penguatan-jaringan-transmisi-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/05\/30\/sistem-interkoneksi-listrik-sumatra-kembali-normal-disertai-evaluasi-dan-penguatan-jaringan-transmisi-2\/","title":{"rendered":"Sistem Interkoneksi Listrik Sumatra Kembali Normal Disertai Evaluasi dan Penguatan Jaringan Transmisi"},"content":{"rendered":"<p>images-62<br \/>\nJAKARTA \u2014 Sistem interkoneksi kelistrikan Sumatra kembali beroperasi normal setelah sempat mengalami gangguan. PT PLN (Persero) menyatakan terus melakukan evaluasi menyeluruh sekaligus mempercepat penguatan sistem kelistrikan di Sumatra, terutama pada aspek jaringan transmisi dan keandalan antar subsistem.<\/p>\n<p>Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN, Gregorius Adi Trianto, mengatakan evaluasi dilakukan untuk memastikan sistem kelistrikan Sumatra semakin andal, kuat, dan mampu merespons potensi gangguan dengan lebih cepat. Menurut dia, PLN juga menjalankan pengembangan berkelanjutan sesuai arah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL 2025\u20132034.<\/p>\n<p>Greg menjelaskan, strategi PLN berfokus pada pengembangan tulang punggung atau backbone sistem kelistrikan Sumatra melalui penguatan jaringan transmisi 150 kilovolt, 275 kilovolt, hingga 500 kilovolt. Pengembangan ini diarahkan untuk menghubungkan pusat-pusat pembangkit besar di berbagai provinsi ke dalam satu sistem interkoneksi Sumatra yang lebih solid dan fleksibel.<\/p>\n<p>\u201cDengan sistem interkoneksi yang semakin terhubung, maka kemampuan transfer daya antarwilayah akan meningkat dan masing-masing subsistem di tiap provinsi dapat saling menopang ketika terjadi gangguan,\u201d kata Greg.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, infrastruktur transmisi strategis tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan sistem kelistrikan Sumatra. \u201cPLN memastikan infrastruktur strategis ini tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan backbone kelistrikan Sumatra guna mendukung peningkatan keandalan sistem interkoneksi Sumatra secara keseluruhan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain memperkuat sistem regional, jaringan transmisi juga dikembangkan untuk mendukung sistem kelistrikan lokal. Langkah tersebut mencakup program dedieselisasi, integrasi pembangkit baru skala kecil dan menengah, pengurangan bottleneck penyaluran, perbaikan kualitas tegangan, serta peningkatan fleksibilitas operasi di wilayah tersebar. PLN juga akan menerapkan jaringan tenaga listrik cerdas atau smart grid secara bertahap sesuai roadmap RUPTL 2025\u20132034.<\/p>\n<p>Sementara itu, pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai gangguan listrik di Sumatra menjadi pengingat pentingnya percepatan pembangunan transmisi. Menurut dia, sistem interkoneksi Sumatra yang membentang lintasprovinsi membutuhkan jaringan transmisi yang andal agar gangguan tidak meluas.<\/p>\n<p>\u201cBlackout di Sumatra harus menjadi momentum bersama untuk mempercepat penguatan jaringan transmisi. Tanpa percepatan pembangunan transmisi, risiko gangguan sistem akan terus meningkat seiring pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas ekonomi di Sumatra,\u201d ujar Agus.<\/p>\n<p>Dengan kembali normalnya sistem interkoneksi, PLN memastikan proses evaluasi dan penguatan infrastruktur tetap berlanjut untuk menjaga keandalan pasokan listrik masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi Sumatra. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>images-62 JAKARTA \u2014 Sistem interkoneksi kelistrikan Sumatra kembali beroperasi normal setelah sempat mengalami gangguan. PT&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-48391","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48391","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=48391"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48391\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":48392,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/48391\/revisions\/48392"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=48391"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=48391"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=48391"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=48391"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}