{"id":49206,"date":"2026-06-22T04:33:03","date_gmt":"2026-06-22T04:33:03","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=49206"},"modified":"2026-06-22T04:33:04","modified_gmt":"2026-06-22T04:33:04","slug":"papua-aman-dan-maju-melalui-pembangunan-inklusif-berkelanjutan-yang-mengedepankan-persatuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/06\/22\/papua-aman-dan-maju-melalui-pembangunan-inklusif-berkelanjutan-yang-mengedepankan-persatuan\/","title":{"rendered":"Papua Aman dan Maju melalui Pembangunan Inklusif Berkelanjutan yang Mengedepankan Persatuan"},"content":{"rendered":"<p>Papua,- Pemerintah terus memperkuat arah pembangunan nasional agar semakin merata dan berkeadilan, termasuk melalui perhatian khusus terhadap Papua dengan dukungan kebijakan Otonomi Khusus. Tokoh muda sekaligus Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan di Papua sangat bergantung pada kondisi keamanan yang stabil dan kondusif sebagai fondasi utama kemajuan daerah.<\/p>\n<p>Ia menyampaikan bahwa pembangunan nasional saat ini diarahkan untuk memastikan seluruh wilayah, termasuk Papua, mendapatkan manfaat pembangunan secara adil dan merata. \u201cPembangunan nasional terus diarahkan agar lebih merata, termasuk melalui perhatian khusus kepada Papua dan kebijakan Otonomi Khusus. Namun keberhasilan pembangunan di daerah ini sangat bergantung pada kondisi keamanan yang stabil dan kondusif,\u201d ujar Ali Kabiay.<\/p>\n<p>Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa keamanan merupakan faktor kunci yang menentukan cepat atau lambatnya kemajuan suatu wilayah. \u201cKeamanan menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan investasi, ekonomi, pendidikan, dan aktivitas sosial masyarakat. Wilayah yang aman akan lebih cepat berkembang dan pada akhirnya memberikan kesejahteraan yang berkelanjutan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Ali juga menekankan pentingnya nasionalisme dan bela negara sebagai bagian dari hak konstitusional warga negara yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pembangunan yang inklusif hanya dapat berjalan optimal jika seluruh elemen masyarakat berperan aktif menjaga persatuan bangsa. \u201cNasionalisme dan bela negara merupakan bagian dari hak konstitusional warga negara yang harus dijalankan dalam menjaga persatuan bangsa. Pembangunan yang inklusif perlu didukung oleh partisipasi seluruh elemen masyarakat agar berjalan optimal,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Ia menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat adat, pemerintah, serta tokoh agama menjadi elemen penting dalam memastikan pembangunan berjalan selaras dengan nilai lokal dan kebutuhan masyarakat. \u201cPembangunan perlu melibatkan masyarakat adat, pemerintah, serta tokoh agama secara bersamaan. Masyarakat adat memiliki peran penting sebagai pemilik wilayah sekaligus penjaga norma sosial yang telah diwariskan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selain itu, Ali juga mengingatkan pentingnya sikap bijak dalam menyikapi informasi maupun karya media seperti film \u201cPesta Babi\u201d. \u201cPenilaian terhadap media perlu dilakukan secara kritis dan objektif dengan memahami konteks secara menyeluruh. Masyarakat harus menghindari kesimpulan terburu-buru dan menjadikan media sebagai bahan refleksi yang bijak,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dengan semangat kolaborasi, stabilitas keamanan, dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, pembangunan Papua diharapkan dapat terus berjalan berkelanjutan. Pendekatan inklusif ini diharapkan mampu memperkuat persatuan nasional sekaligus menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Papua dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Papua,- Pemerintah terus memperkuat arah pembangunan nasional agar semakin merata dan berkeadilan, termasuk melalui perhatian&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-49206","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49206","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=49206"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49206\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":49222,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/49206\/revisions\/49222"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=49206"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=49206"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=49206"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=49206"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}