{"id":50335,"date":"2026-08-14T09:16:36","date_gmt":"2026-08-14T09:16:36","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=50335"},"modified":"2026-08-14T09:16:37","modified_gmt":"2026-08-14T09:16:37","slug":"prabowo-indonesia-capai-swasembada-8-komoditas-pangan-dalam-setahun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/08\/14\/prabowo-indonesia-capai-swasembada-8-komoditas-pangan-dalam-setahun\/","title":{"rendered":"Prabowo: Indonesia Capai Swasembada 8 Komoditas Pangan dalam Setahun"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia berhasil mencapai swasembada delapan komoditas pangan hanya dalam waktu satu tahun. Capaian tersebut lebih cepat dibandingkan target awal pemerintah yang diproyeksikan membutuhkan waktu empat hingga lima tahun.<\/p>\n<p>Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, Jumat (14\/8\/2026).<\/p>\n<p>\u201cKarena kebijakan-kebijakan dan kerja keras kita, swasembada pangan yang dahulu kita targetkan akan kita capai dalam 4 sampai 5 tahun, ternyata berhasil capai dalam waktu 1 tahun,\u201d kata Presiden Prabowo.<\/p>\n<p>Delapan komoditas yang telah mencapai swasembada tersebut meliputi beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.<\/p>\n<p>\u201cSaya sudah sampaikan di awal pidato ini, dalam satu tahun terakhir, Indonesia mencapai swasembada 8 komoditas pangan. Kita sekarang swasembada beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam dan bawang merah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurut Prabowo, kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri semakin penting di tengah konflik geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, dan tekanan ekonomi global. Indonesia, kata dia, harus semakin mampu berdiri di atas kekuatan sendiri.<\/p>\n<p>\u201cBangsa yang kuat harus mampu memberi makan rakyatnya sendiri,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Pemerintah juga melakukan sejumlah pembenahan untuk mengatasi persoalan yang selama ini dihadapi petani, mulai dari akses pupuk hingga aturan yang berbelit. Sebanyak 145 aturan penyaluran pupuk telah dihapus, sementara harga pupuk berhasil diturunkan sebesar 20 persen.<\/p>\n<p>\u201cKetika kita berbicara tentang pupuk, kita berbicara tentang pendapatan petani, harga pangan, dan kedaulatan bangsa,\u201d kata Prabowo.<\/p>\n<p>Pemerintah selanjutnya masih mengupayakan swasembada bawang putih, kedelai, daging sapi, dan daging kerbau. Prabowo menyebut Indonesia pada dasarnya juga telah swasembada protein melalui ikan, telur, dan daging ayam.<\/p>\n<p>Selain pangan, pemerintah mulai mewujudkan swasembada energi melalui produksi diesel B50. Sejak 1 Juli 2026, Indonesia tidak lagi mengimpor solar sehingga dapat menghemat devisa sekitar Rp170 triliun atau 9,5 miliar dolar AS.<\/p>\n<p>Sebelumnya, Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menilai kemandirian pangan dan energi penting untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.<\/p>\n<p>\u201cAlhamdulillah, dalam waktu kurang dari 2 tahun, swasembada pangan, yang lama menjadi mimpi, kini menjadi kenyataan. Kemandirian energi menampakkan titik terangnya,\u201d kata Sultan.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menekankan pengelolaan sumber daya nasional harus tetap ditujukan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.<\/p>\n<p>\u201cPengelolaan sumber daya alam kita harus berlandaskan pada keadilan, keberlanjutan, dan kelestarian ekologi,\u201d tegas Muzani.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia berhasil mencapai swasembada delapan komoditas pangan hanya dalam waktu satu tahun. Capaian tersebut lebih cepat dibandingkan target awal pemerintah yang diproyeksikan membutuhkan waktu empat hingga lima tahun. Hal itu disampaikan Prabowo dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI dalam rangka HUT ke-81 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-50335","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50335","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=50335"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50335\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":50336,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/50335\/revisions\/50336"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=50335"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=50335"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=50335"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}