{"id":53956,"date":"2026-09-23T02:13:37","date_gmt":"2026-09-23T02:13:37","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=53956"},"modified":"2026-09-23T02:13:39","modified_gmt":"2026-09-23T02:13:39","slug":"ondofolo-jayapura-serukan-warga-jaga-perdamaian-dan-tidak-terprovokasi-aksi-knpb","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/09\/23\/ondofolo-jayapura-serukan-warga-jaga-perdamaian-dan-tidak-terprovokasi-aksi-knpb\/","title":{"rendered":"Ondofolo Jayapura Serukan Warga Jaga Perdamaian dan Tidak Terprovokasi Aksi KNPB"},"content":{"rendered":"<p>Sentani \u0096 Sejumlah tokoh adat atau Ondofolo di Kabupaten Jayapura mengajak masyarakat menjaga perdamaian dan tidak terprovokasi oleh agenda yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban di Papua.<\/p>\n<p>Para tokoh adat juga meminta masyarakat mempertimbangkan dampak setiap kegiatan yang berpotensi berujung pada tindakan anarkis. Keamanan dinilai sebagai kepentingan bersama yang harus dijaga agar aktivitas masyarakat tetap berjalan dengan aman.<\/p>\n<p>Ondofolo Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, mengatakan keamanan masyarakat tidak boleh dikorbankan untuk kepentingan kelompok tertentu.<\/p>\n<p>\u0093Saya mengimbau kepada masyarakat umum yang ada di Kabupaten Jayapura maupun Kota Jayapura untuk tidak ikut dalam kegiatan aksi demo KNPB, jangan sampai ujung-ujungnya terjadi tindakan anarkis yang justru merugikan kita semua,\u0094 katanya.<\/p>\n<p>Menurut Harly, perdamaian menjadi kepentingan bersama seluruh masyarakat Papua di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).<\/p>\n<p>\u0093Tujuan kita satu, bagaimana membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dengan damai di Tanah Papua,\u0094 ucapnya.<\/p>\n<p>Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, juga menegaskan aspirasi kelompok KNPB tidak dapat serta-merta dianggap mewakili seluruh masyarakat adat Papua.<\/p>\n<p>\u0093Walaupun mengatasnamakan masyarakat Orang Asli Papua (OAP), tapi dari adat kami mengatakan tidak, itu hanya keinginan sekelompok orang,\u0094 tegasnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, mengingatkan kebebasan menyampaikan pendapat tetap harus menghormati hukum, masyarakat, serta norma adat yang berlaku.<\/p>\n<p>\u0093Kalau boleh berdemonstrasi, tetapi demonstrasi yang beretika dan punya adab, jangan ada sikap anarkis yang ditunjukkan di atas tanah ini,\u0094 ujarnya.<\/p>\n<p>Ketua Peradilan Adat Dewan Adat Sentani, Yacob Fiobetauw, turut meminta masyarakat lebih berhati-hati menerima informasi dan tidak mudah mengikuti ajakan yang dapat memicu ketegangan.<\/p>\n<p>\u0093Saya mengimbau seluruh masyarakat agar tidak terjebak dan tidak terprovokasi dengan ajakan atau isu-isu yang merusak negara kita Republik Indonesia,\u0094 kata Yacob.<\/p>\n<p>Para tokoh adat berharap masyarakat dari berbagai suku terus mengedepankan persaudaraan serta bersama-sama menjaga Papua tetap aman dan damai.<\/p>\n<p>Kondisi yang kondusif dinilai penting agar kehidupan keluarga, aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan masyarakat, serta pembangunan di Papua dapat terus berjalan tanpa terganggu oleh provokasi maupun konflik.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sentani \u0096 Sejumlah tokoh adat atau Ondofolo di Kabupaten Jayapura mengajak masyarakat menjaga perdamaian dan tidak terprovokasi oleh agenda yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban di Papua. Para tokoh adat juga meminta masyarakat mempertimbangkan dampak setiap kegiatan yang berpotensi berujung pada tindakan anarkis. Keamanan dinilai sebagai kepentingan bersama yang harus dijaga agar aktivitas masyarakat tetap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-53956","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53956","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53956"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53956\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53957,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53956\/revisions\/53957"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53956"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53956"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53956"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}