{"id":53974,"date":"2026-09-23T02:19:04","date_gmt":"2026-09-23T02:19:04","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=53974"},"modified":"2026-09-23T02:19:06","modified_gmt":"2026-09-23T02:19:06","slug":"aksi-knpb-kerap-berujung-anarkis-masyarakat-diminta-tak-mudah-terprovokasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/09\/23\/aksi-knpb-kerap-berujung-anarkis-masyarakat-diminta-tak-mudah-terprovokasi\/","title":{"rendered":"Aksi KNPB Kerap Berujung Anarkis, Masyarakat Diminta Tak Mudah Terprovokasi"},"content":{"rendered":"<p>SENTANI \u0097 Tokoh adat Papua mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi maupun aktivitas Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Warga diminta mengedepankan sikap bijaksana serta tidak terlibat dalam kegiatan yang dapat memicu keresahan maupun merugikan diri sendiri dan lingkungan.<\/p>\n<p>Imbauan tersebut disampaikan sejumlah Ondofolo di Kabupaten Jayapura yang menekankan pentingnya masyarakat adat bersama-sama menjaga kedamaian dan ketenteraman wilayah. Para tokoh adat mengingatkan bahwa stabilitas keamanan di Tanah Papua merupakan kepentingan seluruh elemen masyarakat, sehingga setiap ajakan perlu disikapi secara kritis dan tidak mudah terpengaruh.<\/p>\n<p>Ondofolo Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, meminta masyarakat Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura tidak mengikuti kegiatan KNPB yang dinilai berpotensi berujung pada tindakan anarkis. Menurutnya, masyarakat perlu mempertimbangkan dampak dari setiap aktivitas terhadap keamanan serta kehidupan sosial di lingkungan masing-masing.<\/p>\n<p>\u0093Saya mengimbau kepada masyarakat umum yang ada di Kabupaten Jayapura maupun Kota Jayapura untuk tidak ikut dalam kegiatan aksi provokasi, jangan sampai ujung-ujungnya terjadi tindakan anarkis yang justru merugikan kita semua,\u0094 kata Harly.<\/p>\n<p>Harly menegaskan, perdamaian di Tanah Papua harus dijaga bersama tanpa membiarkan masyarakat terpecah oleh kepentingan kelompok tertentu. Ia mengajak warga mengedepankan persatuan dan menciptakan kehidupan sosial yang aman.<\/p>\n<p>\u0093Tujuan kita satu, bagaimana membawa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dengan damai di Tanah Papua,\u0094 ujarnya.<\/p>\n<p>Senada, Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee, menilai masyarakat adat tidak seharusnya terseret dalam agenda KNPB yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat Papua. Ia menegaskan bahwa aktivitas kelompok tersebut tidak dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat adat Papua.<\/p>\n<p>\u0093Walaupun mengatasnamakan masyarakat Orang Asli Papua, tapi dari adat kami mengatakan tidak, itu hanya keinginan sekelompok orang,\u0094 tegas Marthen.<\/p>\n<p>Marthen juga mengingatkan masyarakat agar lebih memprioritaskan keluarga dan aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat nyata. \u0093Lebih baik urus diri, urus istri dan anak, serta mencari makan daripada mengikuti kegiatan yang tidak menguntungkan,\u0094 ucapnya.<\/p>\n<p>Sementara itu, Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, mengingatkan masyarakat agar penyampaian pendapat tetap dilakukan dengan menghormati hukum dan norma adat. Ia mengajak seluruh warga menjaga ketertiban agar kehidupan sosial di wilayah adat Jayapura tetap aman, damai, dan kondusif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SENTANI \u0097 Tokoh adat Papua mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi maupun aktivitas Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang dinilai berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Warga diminta mengedepankan sikap bijaksana serta tidak terlibat dalam kegiatan yang dapat memicu keresahan maupun merugikan diri sendiri dan lingkungan. Imbauan tersebut disampaikan sejumlah Ondofolo di Kabupaten [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-53974","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53974","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=53974"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53974\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":53975,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/53974\/revisions\/53975"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=53974"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=53974"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=53974"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}