{"id":54044,"date":"2026-09-24T05:23:31","date_gmt":"2026-09-24T05:23:31","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=54044"},"modified":"2026-09-24T05:23:34","modified_gmt":"2026-09-24T05:23:34","slug":"investasi-gerakkan-industri-lokal-dan-umkm-ekonomi-daerah-makin-produktif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/09\/24\/investasi-gerakkan-industri-lokal-dan-umkm-ekonomi-daerah-makin-produktif\/","title":{"rendered":"Investasi Gerakkan Industri Lokal dan UMKM, Ekonomi Daerah Makin Produktif"},"content":{"rendered":"<p>Investasi Gerakkan Industri Lokal dan UMKM, Ekonomi Daerah Makin Produktif<br \/>\nJakarta \u2013 Investasi dinilai memiliki peran strategis dalam menggerakkan industri lokal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. Investasi yang diarahkan pada sektor produktif dan memiliki rantai pasok panjang dinilai mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan penerimaan negara.<\/p>\n<p>Ekonom Senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan capaian investasi nasional menunjukkan potensi yang kuat untuk terus menopang pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, target investasi yang selama beberapa tahun terakhir cenderung tercapai menjadi indikasi positif terhadap keberlanjutan investasi.<\/p>\n<p>\u201cKalau kita berbicara target, memang selama lima hingga delapan tahun terakhir, targetnya selalu tercapai. Kita melihat angkanya tahun 2026, investasi sudah terjadi sebesar Rp1.010 triliun. Artinya itu 49,5 persen dari target, yang menurut saya akhir tahun mendekati lebih 100 persen,\u201d ujar Wijayanto.<\/p>\n<p>Ia menjelaskan, investasi memberikan dampak ekonomi ketika diarahkan pada sektor yang menghasilkan output, menciptakan lapangan kerja, dan membangun keterkaitan dengan pelaku usaha di dalam negeri.<\/p>\n<p>\u201cMemang benar, investasi itu mendorong pertumbuhan ekonomi, karena dia menghasilkan output. Investasi yang mempunyai supply chain panjang, yang menciptakan nilai tambah, lapangan kerja berkualitas, dan penerimaan negara yang tinggi bagi pemerintah,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Wijayanto menekankan pentingnya memastikan investasi tidak berhenti pada peningkatan kapasitas produksi perusahaan besar, tetapi turut melibatkan industri lokal dan UMKM. Sektor manufaktur, perikanan, agroindustri, tekstil, elektronik, hingga furnitur dinilai memiliki ruang besar untuk memperluas manfaat investasi.<\/p>\n<p>\u201cInvestasi perlu menggerakkan industri lokal dan UMKM. Investasi pada manufaktur, perikanan, dan sektor produktif lainnya diharapkan tidak sekadar meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah serta menciptakan lapangan kerja berkualitas,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menilai hilirisasi perlu terus didorong hingga menghasilkan produk akhir di dalam negeri. \u201cHilirisasi ini hal yang sangat bagus. Hilirisasi harus ditekan ke bawah sampai betul-betul ke hilir, sampai produk jadi,\u201d kata Wijayanto.<\/p>\n<p>Menurutnya, pengembangan industri hilir perlu berjalan paralel dengan penguatan sektor manufaktur dan ekonomi lokal. Pariwisata juga dinilai berpotensi menjadi penggerak ekonomi kerakyatan karena memiliki keterkaitan langsung dengan UMKM dan masyarakat daerah.<\/p>\n<p>Di sisi lain, Wijayanto menekankan pentingnya tata kelola investasi dan penerimaan negara yang baik agar manfaat ekonomi dapat semakin optimal. \u201cMenurut saya salah satu yang perlu dilakukan adalah perbaikan tata kelola. Sehingga tidak ada kebocoran,\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Investasi Gerakkan Industri Lokal dan UMKM, Ekonomi Daerah Makin Produktif Jakarta \u2013 Investasi dinilai memiliki peran strategis dalam menggerakkan industri lokal dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah. Investasi yang diarahkan pada sektor produktif dan memiliki rantai pasok panjang dinilai mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-54044","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54044","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54044"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54044\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54045,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54044\/revisions\/54045"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54044"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54044"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54044"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}