{"id":54185,"date":"2026-09-27T15:15:09","date_gmt":"2026-09-27T15:15:09","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=54185"},"modified":"2026-09-27T15:15:10","modified_gmt":"2026-09-27T15:15:10","slug":"lokapasar-mbg-menjadi-langkah-penting-menjaga-kualitas-makanan-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/09\/27\/lokapasar-mbg-menjadi-langkah-penting-menjaga-kualitas-makanan-anak\/","title":{"rendered":"Lokapasar MBG Menjadi Langkah Penting Menjaga Kualitas Makanan Anak"},"content":{"rendered":"<p>Lokapasar MBG Menjadi Langkah Penting Menjaga Kualitas Makanan Anak<br \/>\nOleh: Aditya Anggara )*<\/p>\n<p>Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki cakupan pelayanan luas karena menyasar kebutuhan pangan dan gizi anak di berbagai daerah. Besarnya jumlah penerima manfaat membuat kualitas bahan pangan menjadi aspek penting dalam penyelenggaraan program. Bahan yang digunakan tidak hanya harus tersedia dalam jumlah memadai, tetapi juga memenuhi standar keamanan, mutu, kesegaran, dan kelayakan konsumsi.<\/p>\n<p>Dalam konteks tersebut, gagasan pembentukan lokapasar atau marketplace khusus kebutuhan MBG menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola penyediaan bahan pangan. Mekanisme ini dapat mempertemukan kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan penyedia komoditas pangan secara lebih terorganisasi. Sistem yang terstruktur juga dapat membantu memastikan bahan yang digunakan berasal dari sumber yang memenuhi persyaratan.<\/p>\n<p>Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan gagasan pembuatan marketplace atau lokapasar untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), bertujuan untuk menjamin keamanan bahan bakunya. Melalui cara itu, bahan-bahan yang disediakan untuk kebutuhan MBG bisa didapatkan dengan kualitas terbaik. Ia menyatakan, ketika bahan baku yang didapatkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih dalam kondisi segar, maka potensi terjadinya gangguan di lapangan akibat kualitas bahan seperti keracunan, bisa dicegah secara optimal. Sudaryono juga menyatakan, lokapasar turut menjadi bagian memastikan terjaganya ketersediaan dan kualitas komoditas pangan yang digunakan oleh SPPG atau dapur MBG, memproduksi menu program MBG sesuai standar serta layak konsumsi.<\/p>\n<p>Penyediaan makanan dalam skala besar membutuhkan pengelolaan rantai pasok yang baik. SPPG harus memastikan berbagai bahan tersedia sesuai kebutuhan menu, jumlah penerima manfaat, jadwal produksi, serta standar pengolahan. Komoditas seperti beras, sayuran, buah, telur, daging, dan ikan memiliki karakteristik penyimpanan serta daya tahan yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan sesuai standar.<\/p>\n<p>Lokapasar dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat proses tersebut. Melalui sistem pengadaan yang lebih terintegrasi, kebutuhan bahan pangan dapat dicatat dan dipantau berdasarkan jenis, jumlah, kualitas, serta waktu pengiriman. Informasi tersebut penting untuk menjaga kesegaran bahan sebelum digunakan dalam proses produksi makanan.<\/p>\n<p>Penguatan rantai pasok juga berkaitan dengan upaya mengurangi risiko selama penyediaan makanan. Bahan pangan yang tidak ditangani dengan baik dapat mengalami penurunan kualitas sebelum diolah. Karena itu, sumber bahan, proses distribusi, kondisi penyimpanan, dan waktu penerimaan menjadi bagian penting dalam sistem keamanan pangan.<\/p>\n<p>Selain pengadaan, pengawasan terhadap pelaksanaan MBG tetap diperlukan untuk menjaga standar program. Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, menyatakan pihaknya terus memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memastikan seluruh proses penyelenggaraan program berjalan sesuai dengan standar keamanan pangan, kualitas pelayanan, serta ketentuan tata kelola yang telah ditetapkan.<\/p>\n<p>Ketut menyampaikan bahwa pemberhentian operasional sementara dilakukan secara dinamis berdasarkan hasil pengawasan di lapangan. Berdasarkan data yang ada, rata-rata terdapat 20 hingga 30 SPPG yang dikenakan sanksi pemberhentian operasional sementara setiap harinya.<\/p>\n<p>Langkah tersebut menjadi bagian dari mekanisme pengawasan untuk memastikan setiap SPPG menjalankan standar penyelenggaraan. Pengadaan bahan baku melalui sistem yang lebih terorganisasi juga perlu berjalan beriringan dengan pengawasan pada tahap penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi agar standar keamanan pangan diterapkan secara menyeluruh.<\/p>\n<p>Penyelenggaraan MBG melibatkan banyak SPPG dengan kondisi wilayah yang beragam. Dapur di kawasan perkotaan memiliki karakteristik distribusi berbeda dengan dapur yang melayani wilayah terpencil. Jarak, infrastruktur, ketersediaan pemasok, serta karakteristik komoditas menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam penyediaan bahan pangan.<\/p>\n<p>Lokapasar tidak menghilangkan seluruh tantangan tersebut, tetapi dapat membantu pengelolaan kebutuhan pangan secara lebih terkoordinasi. Data permintaan SPPG dapat menjadi dasar untuk melihat kebutuhan komoditas secara lebih luas, sementara informasi ketersediaan bahan dapat mendukung perencanaan pengadaan sesuai kondisi lapangan.<\/p>\n<p>Pengembangan lokapasar juga dapat membuka ruang bagi pelaku usaha pangan, petani, peternak, nelayan, koperasi, dan pemasok lokal untuk terlibat dalam rantai pasok program. Keterlibatan tersebut tetap perlu disertai pemenuhan standar mengenai mutu, kebersihan, penanganan, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi.<\/p>\n<p>Keberadaan sistem digital juga dapat mendukung proses pengadaan yang lebih terdokumentasi. Pencatatan kebutuhan, penyedia, jumlah komoditas, hingga distribusi bahan dapat membantu proses pemantauan dan evaluasi. Apabila terdapat persoalan terkait kualitas atau ketepatan pengiriman, data tersebut dapat menjadi dasar perbaikan. Bagi penerima manfaat, seluruh rangkaian tersebut bermuara pada tersedianya makanan yang aman, bergizi, dan layak dikonsumsi. Anak-anak yang menerima MBG membutuhkan makanan yang diproduksi melalui proses yang memperhatikan kualitas sejak bahan baku diperoleh. Karena itu, penguatan sistem pengadaan memiliki kaitan dengan kualitas pelayanan program.<\/p>\n<p>Lokapasar MBG dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu menciptakan proses pengadaan yang lebih terencana, terdokumentasi, dan terhubung dengan kebutuhan SPPG. Dengan demikian, lokapasar untuk kebutuhan MBG memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar sarana transaksi bahan pangan. Sistem tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih tertata sekaligus mendukung penerapan standar kualitas dan keamanan pangan, sehingga penyelenggaraan MBG dapat terus diarahkan pada penyediaan makanan yang aman, berkualitas, dan layak dikonsumsi bagi penerima manfaat.<\/p>\n<p>)* Pengamat kebijakan publik<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lokapasar MBG Menjadi Langkah Penting Menjaga Kualitas Makanan Anak Oleh: Aditya Anggara )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki cakupan pelayanan luas karena menyasar kebutuhan pangan dan gizi anak di berbagai daerah. Besarnya jumlah penerima manfaat membuat kualitas bahan pangan menjadi aspek penting dalam penyelenggaraan program. Bahan yang digunakan tidak hanya harus tersedia dalam jumlah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-54185","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54185","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54185"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54185\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54186,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54185\/revisions\/54186"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54185"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54185"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54185"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}