{"id":54269,"date":"2026-09-29T01:36:48","date_gmt":"2026-09-29T01:36:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=54269"},"modified":"2026-09-29T01:36:56","modified_gmt":"2026-09-29T01:36:56","slug":"ketahanan-ekonomi-nasional-kunci-menghadapi-ketidakpastian-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/09\/29\/ketahanan-ekonomi-nasional-kunci-menghadapi-ketidakpastian-global\/","title":{"rendered":"Ketahanan Ekonomi Nasional Kunci Menghadapi Ketidakpastian Global"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih mampu bertahan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik dunia. Kondisi tersebut terlihat dari pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang mencapai 5,45 persen, inflasi yang berada pada level 3,19 persen, serta kembali meningkatnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Stabilitas tersebut menjadi landasan penting bagi pemerintah untuk mempertahankan pertumbuhan sekaligus memperkuat fundamental ekonomi nasional.<\/p>\n<p>Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup baik meskipun menghadapi berbagai tekanan dari lingkungan global. Ia menjelaskan, sejumlah indikator ekonomi makro menunjukkan perkembangan yang relatif terkendali.<\/p>\n<p>\u201cKondisi perekonomian Indonesia masih cukup kuat dan memiliki daya tahan. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,45 persen, sementara perkembangan inflasi juga tetap terkendali di angka 3,19 persen. Selanjutnya, pemerintah masih menunggu capaian pertumbuhan pada kuartal III,\u201d ujar Suahasil Nazara.<\/p>\n<p>Ketahanan ekonomi juga tercermin dari meningkatnya kembali aliran modal asing. Akumulasi investasi yang masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp141,6 triliun. Pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN), tercatat arus modal asing secara neto sebesar Rp40,8 triliun. Sementara itu, aliran dana pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia mencapai Rp171,6 triliun sejalan dengan penyesuaian penerbitan instrumen tersebut.<\/p>\n<p>Suahasil mengatakan perkembangan tersebut menjadi pijakan pemerintah untuk melanjutkan pengelolaan perekonomian secara berkelanjutan. \u201cPerkembangan berbagai indikator ekonomi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk terus menjaga dan mengelola perekonomian nasional ke depan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Dari sisi fiskal, realisasi APBN hingga akhir Agustus 2026 juga masih terjaga. Pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau sekitar 65 persen dari target, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.295 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran tercatat Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).<\/p>\n<p>\u201cPendapatan negara telah mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65 persen dari target, sementara belanja sebesar Rp2.295 triliun sehingga defisit APBN berada di angka Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB,\u201d kata Suahasil.<\/p>\n<p>Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. \u201cPertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada rentang 4,9 sampai 5,7 persen,\u201d ujar Destry.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih mampu bertahan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik dunia. Kondisi tersebut terlihat dari pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang mencapai 5,45 persen, inflasi yang berada pada level 3,19 persen, serta kembali meningkatnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Stabilitas tersebut menjadi landasan penting bagi pemerintah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-54269","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54269","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54269"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54269\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54270,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54269\/revisions\/54270"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54269"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54269"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54269"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}