{"id":54310,"date":"2026-09-29T07:35:26","date_gmt":"2026-09-29T07:35:26","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=54310"},"modified":"2026-09-29T07:35:30","modified_gmt":"2026-09-29T07:35:30","slug":"aplikasi-rating-mbg-memperkuat-transparansi-dan-partisipasi-dalam-pengawasan-program","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/09\/29\/aplikasi-rating-mbg-memperkuat-transparansi-dan-partisipasi-dalam-pengawasan-program\/","title":{"rendered":"Aplikasi Rating MBG Memperkuat Transparansi dan Partisipasi dalam Pengawasan Program"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : Jonathan Janoel*)<\/p>\n<p>Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap penting dalam penguatan tata kelola. Ketika cakupan layanan semakin luas, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang didistribusikan. Kualitas menu, ketepatan waktu, kelayakan pangan, dan respons terhadap keluhan juga menjadi bagian dari ukuran keberhasilan. Karena itu, rencana Badan Gizi Nasional (BGN) menghadirkan aplikasi rating MBG patut dilihat sebagai langkah untuk memperkuat pengawasan dengan melibatkan pihak yang berinteraksi langsung dengan layanan, yakni sekolah.<\/p>\n<p>Juru Bicara BGN Tysa Novenny menjelaskan bahwa aplikasi tersebut disiapkan agar kepala sekolah dan guru dapat memberikan penilaian langsung terhadap layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Penilaian menggunakan skala satu hingga lima bintang, disertai catatan mengenai aspek yang perlu diperbaiki. Indikatornya mencakup ketepatan waktu distribusi serta kelayakan dan kualitas menu yang diterima peserta didik.<\/p>\n<p>Menurut Tysa, keterlibatan sekolah penting karena mereka mengetahui kondisi pelaksanaan MBG secara langsung. Umpan balik yang tercatat melalui sistem digital dapat membantu BGN mengenali persoalan secara lebih terukur, bukan hanya mengandalkan laporan administratif. Sekolah juga tetap dapat menggunakan jalur pelaporan apabila menemukan layanan yang tidak sesuai dan membutuhkan tindak lanjut.<\/p>\n<p>Mekanisme ini memperluas makna transparansi. Selama ini, pengawasan program publik kerap dipahami sebagai pemeriksaan dari lembaga pelaksana atau auditor. Melalui rating, pihak penerima layanan memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka. Masukan tersebut dapat menjadi dasar evaluasi, sepanjang disertai verifikasi dan tindak lanjut yang jelas. Dengan begitu, penilaian bukan sekadar angka bintang, melainkan bagian dari siklus perbaikan layanan.<\/p>\n<p>Kepala BGN Sudaryono sebelumnya menjelaskan bahwa aplikasi dirancang agar kepala sekolah dapat menilai layanan dapur MBG, termasuk kualitas menu, keterlambatan pengiriman, dan persoalan lain yang ditemukan di lapangan. Ia meminta kepala sekolah dan guru tidak ragu menyampaikan keluhan, bahkan meneruskan laporan kepada BGN apabila persoalan belum ditangani oleh SPPG.<\/p>\n<p>Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa aplikasi rating bukan sekadar kanal untuk memberi penilaian positif atau negatif. Sistem ini juga diarahkan untuk memperpendek jarak antara temuan di sekolah dan pengambil keputusan. Ketika laporan dapat diterima lebih cepat, BGN memiliki kesempatan melakukan pemeriksaan, meminta klarifikasi, dan menentukan langkah korektif berdasarkan kondisi yang dilaporkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Jonathan Janoel*) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memasuki tahap penting dalam penguatan tata kelola. Ketika cakupan layanan semakin luas, keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang didistribusikan. Kualitas menu, ketepatan waktu, kelayakan pangan, dan respons terhadap keluhan juga menjadi bagian dari ukuran keberhasilan. Karena itu, rencana Badan Gizi Nasional (BGN) menghadirkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-54310","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54310","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54310"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54310\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54311,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54310\/revisions\/54311"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54310"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54310"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54310"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}