{"id":54617,"date":"2026-10-08T02:22:37","date_gmt":"2026-10-08T02:22:37","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=54617"},"modified":"2026-10-08T02:22:39","modified_gmt":"2026-10-08T02:22:39","slug":"bgn-uji-model-prasmanan-di-sekolah-untuk-jaga-kesegaran-dan-kualitas-mbg","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/10\/08\/bgn-uji-model-prasmanan-di-sekolah-untuk-jaga-kesegaran-dan-kualitas-mbg\/","title":{"rendered":"BGN Uji Model Prasmanan di Sekolah untuk Jaga Kesegaran dan Kualitas MBG"},"content":{"rendered":"<p>BGN Uji Model Prasmanan di Sekolah untuk Jaga Kesegaran dan Kualitas MBG<br \/>\nJakarta \u2014 Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba model prasmanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lebih dari 60 dapur layanan. Skema ini diharapkan dapat memangkas waktu tunggu makanan sehingga sajian yang diterima siswa tetap hangat, segar, dan lebih aman dikonsumsi.<\/p>\n<p>Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pola penyajian prasmanan menjadi salah satu model yang tengah dikaji untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG. Dalam skema tersebut, makanan dibawa langsung ke kelas dan disajikan kepada penerima manfaat.<\/p>\n<p>\u201cPer tanggal 5 Oktober kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,\u201d ujar Sudaryono.<\/p>\n<p>Model yang mengadopsi pendekatan central kitchen itu juga dikembangkan dengan mempelajari sistem penyediaan makanan sekolah di Jepang.<\/p>\n<p>Menurut Sudaryono, salah satu keuntungan utama skema tersebut adalah berkurangnya jeda antara proses memasak dan waktu makan. Hal itu dinilai penting untuk menjaga rasa, kesegaran, sekaligus keamanan makanan.<\/p>\n<p>\u201cKita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selain menjaga kualitas dan keamanan pangan, model prasmanan dinilai berpotensi mengurangi makanan terbuang karena siswa dapat mengambil porsi sesuai kebutuhan.<\/p>\n<p>Sementara itu, Pendiri sekaligus Pembina Pondok Pesantren Segoro Agung, KH Bimo Agus Sunarno, mengapresiasi langkah BGN menguji model tersebut. Menurutnya, prasmanan juga memiliki nilai pendidikan yang dapat memperkuat pembentukan karakter anak.<\/p>\n<p>\u201cUji coba ini merupakan langkah yang baik karena MBG tidak hanya berbicara tentang pemenuhan gizi, tetapi juga dapat menjadi ruang pendidikan karakter bagi anak-anak. Dari meja makan, mereka bisa belajar berbagi, disiplin, dan jujur,\u201d ujar KH Bimo.<\/p>\n<p>Ia menambahkan, anak-anak dapat belajar mengantre, mengambil makanan secara tertib, menyesuaikan porsi dengan kebutuhan, serta menghargai hak teman-temannya.<\/p>\n<p>\u201cMereka belajar mengantre, mengambil makanan sesuai kebutuhannya, tidak berlebihan, serta menghargai hak teman-temannya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>BGN akan terus mengevaluasi uji coba tersebut untuk memastikan model prasmanan tetap memenuhi standar gizi, kebersihan, keamanan pangan, serta mendukung tujuan utama Program MBG. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>BGN Uji Model Prasmanan di Sekolah untuk Jaga Kesegaran dan Kualitas MBG Jakarta \u2014 Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji coba model prasmanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lebih dari 60 dapur layanan. Skema ini diharapkan dapat memangkas waktu tunggu makanan sehingga sajian yang diterima siswa tetap hangat, segar, dan lebih aman dikonsumsi. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-54617","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54617","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=54617"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54617\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":54618,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/54617\/revisions\/54618"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=54617"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=54617"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=54617"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}