{"id":55070,"date":"2026-10-19T00:00:27","date_gmt":"2026-10-19T00:00:27","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=55070"},"modified":"2026-10-19T00:00:29","modified_gmt":"2026-10-19T00:00:29","slug":"prabowo-membawa-pertumbuhan-ekonomi-makin-inklusif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/10\/19\/prabowo-membawa-pertumbuhan-ekonomi-makin-inklusif\/","title":{"rendered":"Prabowo Membawa Pertumbuhan Ekonomi Makin Inklusif"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Fadil Muhammad )*<\/p>\n<p>Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, arah pembangunan ekonomi Indonesia menunjukkan momentum yang menjanjikan. Pemerintah tidak hanya berupaya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Investasi, stabilitas makroekonomi, dan aktivitas usaha menjadi fondasi penting untuk menghadirkan perekonomian yang semakin inklusif, ketika kemajuan nasional dapat berjalan seiring dengan meningkatnya kesejahteraan keluarga.<\/p>\n<p>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada triwulan II-2026, sedangkan pertumbuhan semester I-2026 mencapai 5,45%. Capaian tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi di tengah berbagai tantangan. Semakin kuatnya peran investasi, bersama konsumsi masyarakat, membuka peluang bagi perluasan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan pemerataan kesempatan berusaha.<\/p>\n<p>Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, Fithra Faisal, menjelaskan bahwa struktur pertumbuhan mulai bergeser menuju penguatan investasi setelah sebelumnya lebih banyak ditopang konsumsi. Perubahan ini terlihat sejak triwulan IV-2025 hingga triwulan I dan II-2026. Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi peluang strategis bagi transformasi ekonomi, terutama ketika investasi diarahkan pada kegiatan produktif yang menciptakan nilai tambah.<\/p>\n<p>Optimisme itu memperoleh dukungan dari realisasi investasi semester I 2026 yang mencapai Rp1.010,6 triliun, meningkat 7,2% dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. Investasi tersebut menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung. Angka ini menunjukkan bahwa penanaman modal berkontribusi nyata dalam menggerakkan perekonomian. Manfaatnya berpotensi semakin besar melalui peningkatan keterampilan pekerja, penguatan industri domestik, serta pelibatan usaha lokal dalam rantai produksi.<\/p>\n<p>Fithra juga melihat peluang investasi dari Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, dan China sebagai dukungan bagi pembangunan berbasis nilai tambah. Kehadiran modal dan teknologi dapat memperkuat kapasitas produksi sekaligus membuka kesempatan kolaborasi dengan pemasok domestik. Jika diarahkan secara tepat, investasi akan memperluas pasar usaha kecil dan menengah, mendorong inovasi, serta menciptakan pekerjaan dengan pendapatan lebih baik.<\/p>\n<p>Pakar Ekonomi dari Universitas Indonesia, Prof. Telisa Falianty, turut menyoroti pentingnya stabilitas makroekonomi sebagai modal pembangunan. Pertumbuhan yang terjaga di atas 5% dan inflasi relatif terkendali memberikan ruang bagi kegiatan ekonomi untuk berkembang, sementara pengangguran tetap perlu ditekan. Fondasi yang stabil memungkinkan pemerintah memperkuat kebijakan penciptaan kerja dan daya beli sehingga capaian ekonomi semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Telisa menekankan pentingnya pelaksanaan kebijakan yang berpihak pada kebutuhan nyata masyarakat, termasuk kemudahan berusaha, perluasan pekerjaan, dan perlindungan UMKM. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah merupakan penggerak ekonomi keluarga sekaligus pintu masuk bagi banyak orang untuk berpartisipasi dalam aktivitas produktif. Dukungan pembiayaan, pemasaran, dan pendampingan akan membantu pelaku usaha tumbuh bersama meningkatnya investasi nasional.<\/p>\n<p>Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufikurahman, mengingatkan pentingnya peningkatan kualitas pertumbuhan. Menurutnya, rata-rata pertumbuhan sekitar 5% dalam dua tahun terakhir menunjukkan perekonomian terus bergerak, sedangkan produktivitas dan penciptaan pekerjaan berkualitas masih perlu diperkuat. Masukan tersebut menjadi dorongan konstruktif agar pertumbuhan yang sudah terjaga semakin mampu meningkatkan pendapatan dan ketahanan ekonomi masyarakat.<\/p>\n<p>Penguatan daya beli merupakan bagian tidak terpisahkan dari agenda tersebut. Inflasi terkendali menjadi modal positif, tetapi peningkatan upah riil dan pendapatan rumah tangga tetap dibutuhkan agar kemampuan memenuhi kebutuhan dasar terus membaik. Ketika penghasilan masyarakat bertumbuh sejalan dengan produktivitas, konsumsi domestik dapat semakin kuat dan memberikan dorongan lanjutan bagi kegiatan usaha.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Fadil Muhammad )* Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, arah pembangunan ekonomi Indonesia menunjukkan momentum yang menjanjikan. Pemerintah tidak hanya berupaya menjaga pertumbuhan, tetapi juga memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Investasi, stabilitas makroekonomi, dan aktivitas usaha menjadi fondasi penting untuk menghadirkan perekonomian yang semakin inklusif, ketika kemajuan nasional dapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-55070","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55070","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55070"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55070\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55071,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55070\/revisions\/55071"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55070"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55070"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55070"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}