{"id":55186,"date":"2026-10-19T06:54:46","date_gmt":"2026-10-19T06:54:46","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=55186"},"modified":"2026-10-19T06:54:49","modified_gmt":"2026-10-19T06:54:49","slug":"dua-tahun-prabowo-gibran-mbg-perkuat-pembangunan-sdm-papua","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2026\/10\/19\/dua-tahun-prabowo-gibran-mbg-perkuat-pembangunan-sdm-papua\/","title":{"rendered":"Dua Tahun Prabowo-Gibran, MBG Perkuat Pembangunan SDM Papua"},"content":{"rendered":"<p>Jayapura \u2013 Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), termasuk bagi generasi muda Papua.<\/p>\n<p>Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPP Otsus Papua), Billy Mambrasar, mengapresiasi komitmen pemerintah memperluas akses pemenuhan gizi bagi anak-anak di berbagai wilayah khususnya Papua.<\/p>\n<p>\u201cMenurut saya, ada satu kebijakan yang sangat penting bagi masa depan anak-anak Papua yaitu program makan bergizi gratis atau program MBG,\u201d ujar Billy.<\/p>\n<p>Ia menegaskan, program tersebut bukan sekadar bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang untuk membentuk generasi unggul.<\/p>\n<p>\u201cIni adalah investasi jangka panjang untuk membangun generasi Papua yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing dengan anak-anak dari seluruh Indonesia,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Billy menjelaskan, tantangan pemenuhan pangan di sejumlah wilayah Papua masih membutuhkan perhatian serius. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikannya, prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan nasional pada 2025 mencapai 7,8 persen. Sementara itu, Papua Tengah mencapai 32,30 persen, Papua Pegunungan 28,72 persen, dan Papua Selatan 27,51 persen.<\/p>\n<p>\u201cArtinya, tantangan pemenuhan kebutuhan pangan di beberapa wilayah Papua masih jauh lebih besar dibandingkan rata-rata nasional. Dan ini harus kita jawab dengan kebijakan nyata,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Ia menekankan bahwa pemenuhan gizi merupakan fondasi utama pembangunan manusia.<\/p>\n<p>\u201cPembangunan SDM dimulai dari kebutuhan yang paling mendasar yakni gizi yang cukup,\u201d tegas Billy.<\/p>\n<p>Secara nasional, hingga akhir Agustus 2026, MBG dilaporkan telah menjangkau sekitar 57 juta penerima manfaat. Di Papua, pemerintah menyiapkan pengembangan 2.500 dapur pelayanan gizi, termasuk sekitar 1.400 dapur untuk wilayah terpencil.<\/p>\n<p>Billy mengapresiasi perluasan layanan tersebut, sekaligus mengingatkan pentingnya memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh anak-anak.<\/p>\n<p>\u201cKeberhasilan MBG tidak cukup diukur dari banyaknya dapur yang dibangun, melainkan dari berapa banyak anak-anak Papua yang benar-benar menerima kebutuhan gizi tersebut,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selain meningkatkan kualitas gizi, program ini berpotensi menggerakkan perekonomian lokal melalui keterlibatan petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM.<\/p>\n<p>\u201cManfaatnya bisa dua sekaligus yaitu anak-anak mendapatkan gizi, sementara ekonomi masyarakat lokal ikut bergerak,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Billy berharap MBG terus diperluas hingga wilayah pedalaman dengan pengawasan kualitas makanan, keamanan pangan, dan distribusi yang baik.<\/p>\n<p>\u201cAnak-anak Papua berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk maju. Masa depan Papua ditentukan oleh kualitas generasi yang kita siapkan. Papua sehat, Papua cerdas, Indonesia kuat,\u201d pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jayapura \u2013 Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), termasuk bagi generasi muda Papua. Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPP Otsus Papua), Billy Mambrasar, mengapresiasi komitmen pemerintah memperluas akses pemenuhan gizi bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-55186","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sda-dan-agraria"],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55186","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=55186"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55186\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":55187,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/55186\/revisions\/55187"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=55186"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=55186"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=55186"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}