{"id":6758,"date":"2022-10-03T08:17:44","date_gmt":"2022-10-03T08:17:44","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=6758"},"modified":"2022-10-03T08:17:45","modified_gmt":"2022-10-03T08:17:45","slug":"mrp-dan-dprp-diminta-fasilitasi-pertemuan-para-tokoh-papua-untuk-redam-reaksi-pendukung-lukas-enembe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2022\/10\/03\/mrp-dan-dprp-diminta-fasilitasi-pertemuan-para-tokoh-papua-untuk-redam-reaksi-pendukung-lukas-enembe\/","title":{"rendered":"MRP dan DPRP Diminta Fasilitasi Pertemuan Para Tokoh Papua untuk Redam Reaksi Pendukung Lukas Enembe"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Jurnalredaksi, Keerom\u2013<\/strong>&nbsp; Gubernur Papua Lukas Enembe hingga kini belum bisa diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Gubernur dua periode tersebut dikhabarkan sudah dua kali mangkir dari panggilan lembaga antirasuah dengan alasan sakit.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, di rumah kediaman Lukas Enembe di Koya Tengah, Jayapura, masih terdapat ratusan pendukung Lukas yang berjaga-jaga, lengkap dengan senjata tradisional seperti tombak, parang, panah, dan kampak. Mereka mengklaim, penetapan tersangka gubernur Papua dalam kasus korupsi sebagai &#8216;kriminalisasi&#8217; dan &#8216;politisasi\u2019. Sementara KPK berpendirian bahwa penetapan Tersangka kepada Lukas Enembe berdasarkan catatan laporan dari PPATK ke KPK, ada ketidakwajaran dari penyimpangan dan pengelolaan uang yang jumlahnya mencapai ratusan miliar dalam dua belas hasil analisis PPATK.<\/p>\n\n\n\n<p>Menanggapi perkembangan kasus Lukas Enembe tersebut, seorang tokoh adat dari Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, meminta Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) mencari jalan tengah guna mengatasi persoalan yang sedang melilit Gubernur Lukas Enembe.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMRP dan DPRP agar melakukan pendekatan dengan tua-tua adat dari daerah gunung, dari Wamena, Tolikara, serta tokoh-tokoh Papua lainnya di Jayapura, membuat kesepakatan tertulis, baru kemudian Bapak Lukas diperiksa, supaya tidak ada korban jiwa,\u2019\u2019 usul Ketua Dewan Adat Keerom, Servo Tuamis.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Servo, langkah itu sangat mungkin dilakukan mengingat tokoh-tokoh yang duduk di kedua lembaga pilihan rakyat itu banyak berasal dari wilayah pegunungan sehingga mereka akan mudah berkoordinasi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201c[Anggota yang duduk di] dua Lembaga ini kita yang pilih, mereka juga harus punya tanggung jawab. Mereka jangan duduk diam saja, menunggu sampai terjadi bentrokan,\u201d usul Servo.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika pendekatan dengan tua-tua adat dan tokoh-tokoh Papua ini berhasil dilakukan, imbuh Servo, maka KPK tidak perlu harus melakukan upaya paksa yang dapat berakibat menimbulkan korban jiwa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKalau timbul korban jiwa, nanti LSM lain akan campur tangan, nanti bisa meluas,\u2019\u2019 ungkap Servo khawatir.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Suku Daiget dari Keerom ini sepakat dengan tokoh-tokoh Papua lainnya yang menginginkan agar proses hukum terhadap dugaan korupsi Lukas Enembe dilanjutkan hingga tuntas oleh KPK.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cProses hukum itu untuk perbaikan supaya ke depan siapapun jadi pemimpin, jangan menjalankan hal-hal yang tidak bagus, dan rakyat bisa menikmati pembangunan ini dengan baik,\u201d\u2019 harap Servo.<\/p>\n\n\n\n<p>(CA\/AA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurnalredaksi, Keerom\u2013&nbsp; Gubernur Papua Lukas Enembe hingga kini belum bisa diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6767,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[16],"tags":[243],"newstopic":[],"class_list":["post-6758","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-polhukam","tag-lukas-enembe"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6758"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6758\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6772,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6758\/revisions\/6772"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6767"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6758"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=6758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}