{"id":915,"date":"2021-12-24T02:11:38","date_gmt":"2021-12-24T02:11:38","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/?p=915"},"modified":"2021-12-24T02:11:43","modified_gmt":"2021-12-24T02:11:43","slug":"wni-inggris-waspada-tinggi-omicron","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/2021\/12\/24\/wni-inggris-waspada-tinggi-omicron\/","title":{"rendered":"WNI: Inggris Waspada Tinggi Omicron"},"content":{"rendered":"\n<p>Jakarta, jurnalredaksi&#8211; Warga negara Indonesia (WNI) di Inggris mengungkapkan situasi dan kondisi di negara itu menjelang perayaan natal di tengah kenaikan kasus Omicron. Meski kasus melonjak, pemerintah disebut tak meningkatkan pengetatan pembatasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kasus varian Omicron di Inggris mencapai 60.508 kasus, sementara angka kematian akibat varian tersebut mencapai 12 orang.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Persatuan Pelajar Inggris, Oki Erlivan, mengatakan Inggris dalam kondisi waspada tinggi usai kasus harian bertambah 100 ribu kasus pada hari ini, Jumat (24\/12). Angka itu merupakan rekor baru kasus harian Covid-19 di Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Pemerintah juga melakukan pengetatan, tapi tidak ada pembatasan transportasi dan di tempat publik,&#8221; kata Oki, Jumat (24\/12).<\/p>\n\n\n\n<p>Pembatasan itu, lanjut dia, hanya ada di area yang memiliki kapasitas lebih dari 500 orang. Warga yang ingin masuk ke tempat itu harus menunjukkan Covid paspor atau kartu vaksin.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Sejauh ini tidak ada pembatasan berarti karena (Perdana Menteri Inggris) Boris Johnson bilang sebelum Natal tak ada pengetatan tambahan atau restriksi baru,&#8221; papar Oki.<\/p>\n\n\n\n<p>Senada, Rini Indriani juga mengatakan hal yang nyaris serupa. Ada aturan pembatasan. Namun dari penuturan dia, tampaknya aturan tersebut tak begitu ketat.<\/p>\n\n\n\n<p>Saat Omicron melonjak, pemakaian masker kembali diterapkan di ruang-ruang publik termasuk dalam ruangan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Beberapa ada yang tidak pakai tapi dibanding sebelum ada Omicron, sekarang banyak yang pakai masker,&#8221; ujar Rini.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum Omicron naik beberapa warga lokal terlihat tak memakai masker bahkan di tempat publik seperti mal.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun demikian, pemerintah mengizinkan warga makan di restoran dan mengunjungi pusat olahraga, dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, ketika kasus Omicron melonjak pemerintahan Boris Johnson meningkatkan program booster nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Langsung menindak dengan vaksin booster dalam 2 minggu secara nasional,&#8221; ucap Rini.<\/p>\n\n\n\n<p>Otoritas setempat juga kerap meminta masyarakat melakukan tes Covid-19. Salah satunya dengan mengirim tes cepat atau tes kit ke rumah masing-masing.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjelang perayaan Natal, tak ada aturan khusus yang diterapkan Boris. Namun usai perayaan itu disebut akan ada pengetatan perbatasan.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Di England masih bisa lanjut perayaan Natal sesuai rencana tapi setelah Natal rencananya akan lebih ketat,&#8221; ujar Rini.<\/p>\n\n\n\n<p>Aturan setelah Natal di antaranya menutup tempat wisata, acara-acara besar yang ditangguhkan, termasuk pertandingan sepak bola.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa wilayah lain disebut akan menerapkan aturan lebih ketat bahkan penutupan wilayah.<\/p>\n\n\n\n<p>Di Skotlandia, misalnya, jumlah pertemuan sudah dibatasi, acara besar dibatalkan, beberapa tempat publik ditutup dan kabarnya akan lockdown, kata Rini.<\/p>\n\n\n\n<p>Aturan semacam itu juga berlaku di Wales.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Wales juga sama ketat seperti Skotlandia, sudah pasti setelah Natal ditutup,&#8221; jelas Rini.<\/p>\n\n\n\n<p>(CA\/AA)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, jurnalredaksi&#8211; Warga negara Indonesia (WNI) di Inggris mengungkapkan situasi dan kondisi di negara itu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":916,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[339,81],"newstopic":[],"class_list":["post-915","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi-dan-investasi","tag-inggris","tag-omicron"],"aioseo_notices":[],"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/915","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=915"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/915\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":917,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/915\/revisions\/917"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/916"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=915"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=915"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=915"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalredaksi.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=915"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}