Mengawal Penguatan Satgas Darat dan Udara Dalam Penanganan Karhutla Gambut
Oleh: Ricky Rinaldi*)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada ekosistem gambut, membutuhkan penanganan yang terintegrasi karena karakteristik lahannya berbeda dengan kawasan hutan mineral. Gambut memiliki kandungan bahan organik tinggi dan dapat menyimpan panas di bawah permukaan tanah. Karena itu, upaya penanganan tidak hanya diarahkan pada pemadaman api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan bara di dalam tanah dapat dikendalikan sehingga tidak kembali berkembang. Dalam menghadapi tantangan tersebut, penguatan koordinasi antara satuan tugas (satgas) darat dan udara menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan pemerintah menghadapi musim kemarau.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat patroli, pengawasan, serta kesiapsiagaan personel dan peralatan di wilayah yang memiliki potensi karhutla, termasuk kawasan gambut di Sumatra dan Kalimantan. Langkah pencegahan dilakukan melalui berbagai pendekatan, antara lain pemeliharaan sekat kanal, pengelolaan tata air gambut, pemantauan tinggi muka air tanah, serta pembangunan dan optimalisasi embung. Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga kelembapan gambut sehingga kondisi lahan lebih mampu menghadapi periode kering.
Pengelolaan tata air menjadi salah satu bagian penting dalam strategi pencegahan. Kondisi gambut yang tetap terjaga kelembapannya dapat mengurangi risiko api berkembang dengan cepat. Karena itu, kolaborasi pemerintah dengan pemegang izin kehutanan dan perkebunan, pemerintah daerah, serta masyarakat di sekitar kawasan rawan menjadi bagian dari pendekatan terpadu. Pencegahan tidak hanya dilakukan ketika titik api muncul, tetapi dimulai dari kesiapan infrastruktur dan pemantauan kondisi lahan.
Kementerian Kehutanan juga memperkuat koordinasi personel Manggala Agni dengan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya. Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan pemantauan titik panas memberikan dukungan penting bagi proses deteksi dini. Informasi mengenai indikasi panas dapat menjadi dasar bagi petugas untuk menentukan prioritas patroli dan mengerahkan sumber daya secara lebih cepat ke wilayah yang membutuhkan penanganan.
Pada tingkat tapak, keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam sistem pencegahan. Desa-desa di sekitar kawasan gambut memiliki posisi strategis karena masyarakat merupakan pihak yang beraktivitas secara langsung di wilayah tersebut. Edukasi mengenai pembukaan lahan tanpa bakar, penguatan kelompok masyarakat peduli api, serta penyediaan peralatan pemadaman dapat meningkatkan kemampuan masyarakat melakukan respons awal. Dengan deteksi dan penanganan sejak dini, potensi api untuk berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dapat ditekan.