Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/

Cepat Tepat Terpercaya

Cepat Tepat Terpercaya

  • Home
  • Ekonomi dan Investasi
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
  • Home
  • Ekonomi dan Investasi
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
Subscribe
Close

Search

Ragam

Asmara dan Elmaut di Peca Kulit 1771

By redaksi
July 29, 2022 2 Min Read
Comments Off on Asmara dan Elmaut di Peca Kulit 1771

Jurnalredaksi, Jakarta– Peca bukan pecah, tapi penyamakan, peca kulit: penyamakan kulit. Lokasi: Mangga Dua sebelum Rawa Bebek dari arah barat. Mangga Dua jalan membukit yang lebar (dua). Bukit kecil: Mangga Rai..

Peca kulit milik seorang letnan kompeni kebangsaan Jerman Erberveld, istrinya orang Thai dan dapat putra Pieter.

Selain peca kulit, Erberveld juga punya tanah cukup luas di Sunter.

Ketika Erberveld meninggal, warisan semua jatuh ke Pieter. Pieter pun sudah kawin dengan perawan Betawi dan dikaruniai putri Aletta.

Pieter pekerjakan buruh 12 orang dengan mandor Ateng Kartadria (makam masih ada di Mangga Dua).

Pada tahun 1771 peca kulit dan tana Sunter warisan Erberveld dirampas Gubernur Jenderal dengan alasan Pieter mau berontak di négri Betawi. Dasar tuduhan merujuk dukun idola istri GubJen.

Tempat tinggal Pieter di Peca Kulit tiap malam diincar. Namanya juga Pieter sudah menganggur, kerja saban malam cuma ngobrol dengan Ateng dkk. Ini rapat gelap, toch?

Persis malam tahun baru tahun 1772 Pieter dan Ateng ditangkap. Pieter disiksa di pijnbank, bangku siksa. Pieter mengaku berencana makar. Landraad, pengadilan, putuskan Pieter dihukum mati. Ateng kena hukum kerja grakal (keras) 8 tahun.

Pieter akan jalani hukum mati pada April 1772.

Elit Batavia yaitu seniman dan pebisnis protes. Seorang penyair menulis protes dalam puisi yang bagus.

Beberapa hari lagi Pieter digantung, keluarga boleh bezoek. Nyonya Pieter tak pergi, ia terlalu lemah, cuma Aletta yang datang ke bui.

Aletta: Papa kasih terang cerita,  waarom Papa mau berontak?

Pieter: Tidak mijn dochter Aletta

Aletta: Maar papa ada mengaku toch

Pieter: Alette, papa disiksa

(Air mata membasahi lantai bui)

Aletta: O mijn papa, ik heb van jouw, I love U. Jalanilah kematian itu dengan tabah.

Pada hari penggantungan Aletta dan mamanya berhadir. Banyak juga pebisnis dan seniman yang berhadir. Seorang pebisnis bujang asal Jerman terus tatap Aletta dengan pandangan sendu. Lama2 Aletta berasa juga. Namanya juga tumbak asmara sudah melesat.

Pieter sudah dieksekusi. Banyak yang kasih salam duka pada Aletta dan mama, termasuk pebisnis bujang tadi.

Lewat sebulan négri Batavia gempar lagi. Aletta akan bersanding dengan pebisnis bujang di pelaminan. Pesta besar2an digelar 3 hari 3 malam. Semua orang terpandang di négri Batavia diundang, kecuali GubJen VOC dan bininya yang doyan dukun. 

(RS/AA)

Tags:

sejarah
Author

redaksi

Follow Me
Other Articles
Previous

Pemerintah Dukung Perkembangan Talenta Muda Papua

Next

Mendukung Tindakan Tegas terhadap KST Demi Keberlanjutan Pembangunan di Papua

Kabinet Merah Putih

Kategori Berita

  • Agama dan Pluralitas
  • Ekonomi dan Investasi
  • Games
  • Kriminal
  • Otomotif
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
  • Spellen
Copyright 2026 — . All rights reserved. Blogsy WordPress Theme