Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/

Cepat Tepat Terpercaya

Cepat Tepat Terpercaya

  • Home
  • Ekonomi dan Investasi
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
  • Home
  • Ekonomi dan Investasi
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
Subscribe
Close

Search

Polhukam

Komunikolog: Kata “Bajingan-Tolol” Tidak Mencerminkan Nilai Demokrasi

By redaksi
August 2, 2023 2 Min Read
Comments Off on Komunikolog: Kata “Bajingan-Tolol” Tidak Mencerminkan Nilai Demokrasi

Pengamat politik Rocky Gerung menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai “bajingan tolol” dalam orasinya pada acara buruh di Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Umpatan dilontarkan dalam merespons kebijakan Jokowi dalam mengelola negara.

Dr. Emrus Sihombing Komunikolog Universitas Pelita Harapan menyebut, pernyataan Rocky Gerung tidaklah sesuai etika dan tidak berdasarkan atas nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, umpatan tersebut tidak mencerminkan keberadaban sesuai asas Pancasila.

”Keberadaban sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang ada di Indonesia termasuk etika, kesopanan dan menghargai orang lain. Saya melihat ada diksi yang muncul akhir pekan ini yang tidak tepat, inilah contoh demokrasi yang kebablasan seperti adanya diksi ‘bajingan-tolol’. Tentunya apa yang disampaikan dengan diksi itu sama sekali tidak pas,” Ujarnya dalam salah satu acara stasiun televisi nasional, Rabu (02/08/2023).

Dr. Emrus menjelaskan, kritik yang disuarakan oleh salah satu pengamat politik sangat tidak beretika dan mengandung unsur merendahkan orang lain. Tidak hanya merendahkan presiden tetapi juga merendahkan para pendengar.

”Menurut pandangan saya, saya berpendapat bahwa itu adalah merendahkan orang lain. Bukan hanya Presiden Jokowi, namun dia juga merendahkan para pemirsanya dan merendahkan dirinya sendiri. Padahal dalam konumikasi hendaknya kita harus berposisi egaliter dan ada kesetaraan” ungkapnya.

Dr. Emrus beranggapan bahwa diksi ”bajingan-tolol” sangat tidak pantas untuk disebutkan dalam kritik. Ia beranggapan bahwa diksi tersebut sangat menghina Presiden dan masyarakat.

”Diksi-diksi yang dibangun oleh Rocky Gerung selama ini memposisikan bahwa dirinya superior dan orang lain inferior, orang lain lebih rendah dari dirinya, Selama ini dia juga terus mencari pembenaran. Padahal dalam KBBI, arti dari ‘bajingan’ adalah penjahat, apakah itu layak untuk ditujukan kepada Kepala Negara?” ujarnya.

Dirinya melanjutkan, dalam kritik seharusnya ada unsur membangun bukan dalam bentuk hinaan. Kritik yang membangun adalah kritik yang sehat yang ditujukan terhadap programnya, bukan ditujukan kepada seseorang termasuk presiden.

”Dari sudut komunikasi, hendaknya bisa mengemukakan fakta, data, dan kelemahannya, jangan sampai menyebut nama orangnya. Sebut saja programnya. Tetapi ketika sudah terucap kata ‘tolol’, itu sudah personal kan, tidak baik itu,” ujar dia.

”Kritik yang dilakukan oleh Rocky Gerung sangat diluar adab. Harus kita bedakan keterbukaan komunikasi, tetapi kita tidak setuju dengan keterbukaan yang mendiskreditkan orang lain,” lanjutnya.

Dr. Emrus juga berpesan kepada generasi muda atau milenial untuk dapat menggunakan berbagai sumber informasi dengan arif dan bijak, jangan hanya berdasarkan dari satu sumber semata.

”Kepada generasi muda kita, terutama kepada generasi milenial, tentang sesuatu hal akseslah dari berbagai sumber informasi dan jangan hanya dari satu sumber saja. Karena itu akan mencerdaskan pula,” pungkasnya.

Author

redaksi

Follow Me
Other Articles
Previous

Akademisi Kriminolog Sebut Ungkapan Rocky Gerung Tidak Rasional dan Tidak Beretika

Next

Protes Pernyataan Rocky Gerung, Akademisi Serukan Pentingnya Kritik Beradab

Kabinet Merah Putih

Kategori Berita

  • Agama dan Pluralitas
  • Ekonomi dan Investasi
  • Kriminal
  • Otomotif
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
Copyright 2026 — . All rights reserved. Blogsy WordPress Theme