Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/

Cepat Tepat Terpercaya

Cepat Tepat Terpercaya

  • Home
  • Ekonomi dan Investasi
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
  • Home
  • Ekonomi dan Investasi
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
Subscribe
Close

Search

SDA dan Agraria

Jaga Semangat Nasionalisme di Tengah Fenomena Simbol Budaya Pop Bendera Bajak Laut

By redaksi
August 23, 2025 2 Min Read
Comments Off on Jaga Semangat Nasionalisme di Tengah Fenomena Simbol Budaya Pop Bendera Bajak Laut

Jakarta – Fenomena pengibaran bendera bajak laut bertema anime One Piece di bulan kemerdekaan memicu diskusi publik mengenai penghormatan terhadap simbol negara. Tren yang marak di ruang publik dan media sosial ini dinilai berpotensi menggeser makna nasionalisme jika tidak disikapi dengan bijak.

Akademisi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Supangat, menilai fenomena ini tidak sekadar bentuk kreativitas atau ekspresi budaya populer. Menurutnya, jika tidak ada kesadaran kolektif, tren tersebut dapat mengikis rasa kebangsaan.

“Fenomena ini jelas lebih dari sekadar tren atau budaya pop. Sayangnya, di balik kreativitas itu, nasionalisme perlahan terdorong ke pinggir oleh narasi fiksi, algoritma media sosial, dan kegandrungan akan viralitas,” ujar Supangat.

Ia mengingatkan bahwa generasi muda tetap perlu ruang untuk berekspresi, dan Indonesia tidak menolak budaya populer, termasuk karya fiksi yang sarat pesan perlawanan. Namun, ada batas yang harus dihormati agar tidak menyinggung nilai kebangsaan.

“Merah Putih bukan simbol yang bisa disandingkan sembarangan. Ketika bendera fiksi dikibarkan sejajar dengan lambang negara, ini adalah pergeseran makna yang dapat mengaburkan nilai kebangsaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Supangat menyoroti peran algoritma digital dalam membentuk pola pikir generasi muda. Ia menilai sistem rekomendasi media sosial lebih banyak mengarahkan pengguna pada konten hiburan dibandingkan konten edukasi yang menanamkan nilai kebangsaan.

“Inilah yang saya sebut nasionalisme digital yang disorientatif. Identitas bangsa bisa kehilangan jangkar jika literasi digital masyarakat rendah,” jelas Supangat.

Di sisi lain, ajakan untuk menghormati simbol negara terus digaungkan pemerintah dan berbagai pihak. Sekretaris Fraksi PKS MPR RI, Johan Rosihan, menegaskan bahwa budaya global tidak perlu dimusuhi, tetapi tidak boleh sampai menggeser posisi simbol nasional.

“Kita tidak boleh kalah oleh tren global. Budaya populer tidak salah, tetapi Merah Putih harus tetap menjadi identitas utama. Narasi kebangsaan harus relevan bagi generasi digital agar Merah Putih hadir tidak hanya dalam upacara, tapi juga di ruang kreatif daring,” ungkap Johan.

Momentum peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia menjadi saat yang tepat untuk menegaskan kembali pentingnya menghormati simbol negara, baik di dunia nyata maupun di ruang virtual. Sang Saka Merah Putih bukan sekadar kain berwarna merah dan putih, melainkan simbol persatuan dan identitas bangsa yang tidak tergantikan oleh tren apa pun.

Author

redaksi

Follow Me
Other Articles
Previous

Bendera Bajak Laut Bukan Bagian Dari Semangat Kemerdekaan

Next

Penindakan OPM oleh Aparat, Sinyal Kuat Negara Tidak Toleransi Terorisme di Papua

Kabinet Merah Putih

Kategori Berita

  • Agama dan Pluralitas
  • Ekonomi dan Investasi
  • Kriminal
  • Otomotif
  • Polhukam
  • Ragam
  • SDA dan Agraria
Copyright 2026 — . All rights reserved. Blogsy WordPress Theme