Oleh: Zhafran Goldwin)*
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di lingkungan sekolah mulai menunjukkan perannya sebagai instrumen penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih preventif dan berbasis data. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan terhadap peserta didik tidak hanya memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan individu, tetapi juga menghasilkan peta kesehatan anak usia sekolah yang selama ini belum terdokumentasi secara komprehensif. Temuan mengenai tingginya angka karies gigi, anemia, peningkatan tekanan darah, hingga masalah gizi menjadi dasar penting dalam menyusun langkah intervensi yang lebih terarah sesuai kebutuhan setiap kelompok usia.
Karies gigi atau gigi berlubang masih menjadi masalah kesehatan yang paling banyak dialami pelajar Indonesia. Temuan tersebut terungkap dari hasil Kementerian Kesehatan (Kemenkes) selama semester pertama 2026 yang memetakan kondisi kesehatan berdasarkan kelompok usia. Berdasarkan hasil skrining terhadap anak usia sekolah dan remaja, lebih dari 40 persen peserta yang diperiksa mengalami karies gigi. Selain itu, Kemenkes juga menemukan 27 persen pelajar mengalami anemia, 21 persen mengalami peningkatan tekanan darah, serta sekitar 7 persen mengalami gizi lebih atau obesitas.
Selama ini, berbagai persoalan kesehatan anak sering kali baru diketahui ketika sudah memasuki tahap yang membutuhkan penanganan lebih serius. Banyak kasus gigi berlubang, kekurangan zat besi, gangguan penglihatan, hingga masalah gizi luput dari perhatian karena minimnya pemeriksaan rutin. Akibatnya, berbagai gangguan tersebut dapat memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi, pertumbuhan fisik, hingga produktivitas anak dalam jangka panjang.
Melalui CKG di sekolah, pendekatan pelayanan kesehatan bergeser dari pengobatan menuju pencegahan. Pemeriksaan dilakukan lebih awal sehingga potensi gangguan kesehatan dapat diketahui sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. Pendekatan preventif ini dinilai mampu mengurangi beban pelayanan kesehatan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat sejak usia dini.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan data tersebut menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan kesehatan yang lebih tepat sasaran sesuai kelompok usia. Data hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa tantangan kesehatan berbeda pada setiap jenjang pendidikan. Memasuki jenjang SMP, karies gigi masih menjadi masalah utama. Namun mulai muncul persoalan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi, disertai meningkatnya risiko tuberkulosis (TB), tekanan darah tinggi, dan gangguan gizi.
Sementara pada kelompok SMA, pola tersebut semakin menguat. Selain karies gigi, ditemukan peningkatan kasus hipertensi dini, gangguan kesehatan mental, risiko TB, hingga persoalan gizi yang menunjukkan keseimbangan antara gizi kurang dan obesitas. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan layanan kesehatan peserta didik semakin kompleks sehingga memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.
Kondisi kesehatan peserta didik tidak dapat dipisahkan dari kualitas pendidikan. Anak yang mengalami anemia cenderung lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih rendah. Gangguan kesehatan gigi juga dapat mengurangi kenyamanan belajar, sementara persoalan kesehatan mental berpotensi memengaruhi perkembangan psikologis dan prestasi akademik. Karena itu, peningkatan mutu pendidikan perlu berjalan seiring dengan penguatan layanan kesehatan di sekolah.
Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media, Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Kurnia Ramadhana, menjelaskan CKG Sekolah dilaksanakan serentak di satuan pendidikan mulai tingkat SD, SMP, SMA, Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga pondok pesantren bagi anak usia 7–17 tahun. Pemeriksaan dalam program CKG Sekolah ini tidak hanya mencakup kesehatan fisik, tetapi juga kondisi kejiwaan anak sebagai bagian dari upaya deteksi dini masalah kesehatan peserta didik.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hasil pemeriksaan CKG Sekolah sepanjang 1 Januari hingga 14 Juli 2026 menunjukkan masih tingginya sejumlah masalah kesehatan pada peserta didik. Temuan terbanyak adalah karies atau gigi berlubang yang dialami 40,8 persen siswa, disusul anemia pada 27,3 persen remaja putri, dan tekanan darah tinggi atau hipertensi pada 21,7 persen siswa. Selain itu, pemeriksaan juga menemukan 6,9 persen siswa mengalami serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga, serta 6,7 persen lainnya mengalami obesitas.
Kurnia mengatakan, temuan-temuan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat upaya promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan) di lingkungan sekolah. Adapun data yang dihasilkan melalui CKG memberikan manfaat strategis dalam penyusunan kebijakan publik. Pemerintah kini memiliki basis data kesehatan yang lebih rinci berdasarkan kelompok usia sehingga program kesehatan dapat disusun secara lebih tepat sasaran, baik dalam penyediaan tenaga kesehatan, edukasi, distribusi layanan, maupun pengalokasian anggaran.
Pelaksanaan CKG juga memperkuat kolaborasi antara sektor kesehatan dan pendidikan. Sekolah menjadi mitra strategis dalam membangun budaya hidup sehat melalui edukasi kebersihan diri, kesehatan gigi, konsumsi makanan bergizi, serta aktivitas fisik. Hasil pemeriksaan turut memberikan informasi penting bagi orang tua agar dapat melakukan tindak lanjut terhadap kondisi kesehatan anak sejak dini. Melalui CKG Sekolah, berbagai persoalan kesehatan dapat dideteksi lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan tepat sasaran. Pendekatan berbasis data, deteksi dini, serta kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.
*) Penulis adalah Content Writer di Medical Groovia
