Dua Tahun Prabowo-Gibran: Membangun Ekonomi dengan Banyak Mesin Pertumbuhan
Oleh Dian Rahma )*
Memasuki dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada Oktober 2026, arah pembangunan ekonomi Indonesia mulai menunjukkan perubahan yang menarik. Pertumbuhan tidak lagi semata-mata diletakkan pada konsumsi masyarakat, tetapi diarahkan melalui sejumlah mesin ekonomi sekaligus, mulai dari ketahanan pangan dan energi, investasi, pembangunan sumber daya manusia, hingga pemerataan manfaat pembangunan.
Presiden Prabowo sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah telah menjalankan 121 kebijakan transformatif selama 21 bulan atau 663 hari masa pemerintahan. Kebijakan tersebut menurut Prabowo diarahkan untuk menyelesaikan persoalan nasional sekaligus memperkuat kemandirian Indonesia. Pernyataan itu menggambarkan ambisi pemerintah untuk mengubah fondasi pembangunan, bukan hanya mengejar capaian jangka pendek. Tantangannya tentu bukan sekadar berapa banyak kebijakan yang dibuat, melainkan sejauh mana kebijakan tersebut konsisten dilaksanakan dan menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Salah satu bidang yang menunjukkan perkembangan adalah ketahanan pangan. Pemerintah menyatakan sejumlah komoditas pangan telah mencapai kondisi swasembada lebih cepat dibandingkan target sebelumnya. Capaian tersebut penting karena kemandirian pangan berkaitan langsung dengan stabilitas harga, daya beli masyarakat, dan ketahanan ekonomi nasional. Selama setahun terakhir, penguatan produksi pangan juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri. Jika produktivitas dalam negeri terus meningkat, Indonesia memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi gejolak harga pangan dunia sekaligus menjaga kebutuhan masyarakat.
Perkembangan serupa terlihat pada sektor energi. Pada September 2026, Prabowo menyampaikan Indonesia mulai tidak lagi mengimpor solar sejak 1 Juli. Kebijakan ini dapat dibaca sebagai bagian dari langkah memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri. Bagi perekonomian, ketersediaan energi domestik memiliki arti strategis karena sektor industri, transportasi, perdagangan, dan berbagai kegiatan produktif sangat bergantung pada energi. Keberhasilan tersebut tentu perlu dijaga melalui peningkatan produksi, efisiensi, dan pengelolaan energi yang berkelanjutan.
Di sisi pertumbuhan ekonomi, investasi mulai menunjukkan peran yang semakin besar. Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah atau Bakom RI Fithra Faisal menilai konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan sekitar lima persen, tetapi mulai muncul dukungan lebih kuat dari sisi investasi. Menurut Fithra Faisal, pertumbuhan investasi yang konsisten sejak kuartal IV 2025 hingga kuartal II 2026 menjadi salah satu indikasi adanya transformasi struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia. Artinya, ekonomi mulai memiliki sumber tenaga tambahan di luar konsumsi rumah tangga.
Masuknya berbagai komitmen investasi dari sejumlah negara juga membuka peluang bagi pengembangan industri bernilai tambah. Jika diarahkan secara tepat, investasi tidak hanya membawa modal, tetapi dapat mendorong transfer teknologi, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperkuat rantai pasok dalam negeri. Di sinilah keberhasilan pemerintah selama setahun terakhir perlu diukur secara lebih luas. Angka investasi memang penting, tetapi dampak terhadap tenaga kerja, industri lokal, dan kesejahteraan masyarakat menjadi ukuran yang tidak kalah menentukan.