Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global
Pemerintah Optimis Ketahanan Rupiah Hadapi Tekanan Global
Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar keuangan global.
“Kalau kita lihat dari fundamental ekonomi sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif yang oke dibandingkan dengan peer group kita,” kata Destry.
Destry menjelaskan, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari fundamental ekonomi domestik, dinamika pasar global, hingga persepsi investor.
Menurutnya, fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari mekanisme pasar valuta asing, sementara sentimen global turut memberikan pengaruh yang berada di luar kendali otoritas dalam negeri.
BI menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai prioritas untuk menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Kondisi tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan sektor riil sekaligus membuka kesempatan kerja.
“Fokus di kita itu adalah memang menjaga stabilitas Jadi stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga. Supaya bisa terkita iklim ekonomi yang kondusif untuk, nantinya bisa ekonomi di sektor riilnya bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan,” pungkasnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme bahwa rupiah tidak akan menembus level Rp19.000 per dolar AS. Keyakinan tersebut didasarkan pada penilaiannya terhadap kondisi makroekonomi Indonesia yang masih relatif stabil.
“Ya, kita lihat saja, tapi kita lebih optimis (rupiah tidak tembus Rp19 ribu per USD). Nanti kita lihat, kita optimis dengan kondisi makroekonomi,” kata Airlangga.
Erwin menjelaskan bahwa dinamika nilai tukar rupiah turut dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, termasuk ketidakpastian geopolitik, pergerakan harga minyak, dan ekspektasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Faktor-faktor tersebut menjadi bagian dari tantangan yang diantisipasi BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan domestik
Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan turut memengaruhi pergerakan rupiah.
“Erwin menjelaskan bahwa pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan dinamika mata uang negara kawasan. Meskipun secara bulanan rupiah mengalami pelemahan 1,15 persen, ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap didukung cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor
Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah, antara lain melalui transaksi NDF, DNDF, dan spot. BI juga melakukan pembelian SBN di pasar sekunder sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar keuangan dan memperkuat kepercayaan pelaku pasar
“Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,” kata Erwin.