Oleh : Andika Pratama *)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir tidak hanya sebagai kebijakan sosial untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga sebagai instrumen strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara signifikan. Dalam konteks pembangunan yang semakin menuntut integrasi antara aspek sosial dan ekonomi, MBG menjadi contoh konkret bagaimana intervensi pemerintah dapat menciptakan efek berganda yang luas, mulai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat hingga penguatan sektor riil. Program ini menunjukkan bahwa investasi pada sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi dapat berjalan beriringan dengan upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dari perspektif fiskal dan makroekonomi, MBG memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas ekonomi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa program ini mampu menyerap hingga satu juta tenaga kerja, sebuah angka yang mencerminkan dampak signifikan terhadap pasar tenaga kerja nasional. Dengan menggunakan pendekatan perhitungan yang lazim digunakan Badan Pusat Statistik, setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen berpotensi menyerap sekitar 450 ribu tenaga kerja. Dengan demikian, implementasi MBG yang optimal dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penurunan tingkat pengangguran sekaligus meningkatkan produktivitas nasional. Meskipun terdapat dinamika perpindahan tenaga kerja dari sektor lain, kontribusi bersih terhadap pertumbuhan ekonomi tetap diperkirakan berada di atas satu persen, sebuah capaian yang tidak dapat dipandang sebelah mata dalam kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

