Oleh : Reska R )*
Situasi ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir bergerak dengan ritme yang sulit diprediksi. Ketegangan geopolitik di berbagai wilayah, perubahan arah kebijakan suku bunga di negara maju, serta fluktuasi harga energi dan pangan dunia menciptakan tekanan yang terasa hingga ke pasar negara berkembang. Banyak mata uang mengalami pelemahan karena derasnya arus modal yang mencari aset aman. Namun di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian tersebut, rupiah Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat dan konsisten, mencerminkan fondasi ekonomi yang semakin solid.
Bank Indonesia menyebutkan bahwa meskipun rupiah sempat tertekan oleh kondisi global, pergerakannya tetap berada dalam kisaran yang sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Pada awal 2026, rupiah bergerak di level belasan ribu per dolar AS dengan fluktuasi yang lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global. BI juga menilai rupiah masih cenderung undervalued, sehingga berbagai langkah stabilisasi terus dilakukan.
Stabilitas ini didukung oleh kebijakan moneter yang konsisten, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta koordinasi kebijakan fiskal dan sektor keuangan yang semakin solid. Inflasi sempat naik secara musiman, tetapi inflasi inti tetap rendah sehingga daya beli masyarakat relatif terjaga. Kondisi tersebut menjadi salah satu fondasi utama yang membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Sujantoro mengatakan meski kondisi global sedang tidak stabil, pemerintah berupaya mengelola APBN dengan baik. pemerintah terus mengoptimalkan berbagai instrumen fiskal, antara lain melalui optimalisasi penerimaan, penguatan kualitas belanja, optimalisasi penerimaan, serta pengelolaan pembiayaan dengan hati-hati. Sehingga APBN tetap sehat dan dapat berfungsi efektif sebagai penyerap guncangan atau shock absorber.
Menariknya, meskipun tekanan global meningkat, Indonesia masih mampu mempertahankan fundamental ekonomi yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran sekitar lima persen, ditopang oleh konsumsi domestik, investasi, dan ekspor yang stabil. Laporan dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa sektor perbankan juga tetap resilien dengan tingkat permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali.
Tidak dapat dipungkiri bahwa gejolak global tetap memberikan dampak terhadap rupiah. Ketegangan geopolitik, seperti konflik di beberapa kawasan dunia, sempat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam beberapa momen, rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis tertentu akibat tekanan tersebut. Namun yang menarik, pelemahan tersebut cenderung bersifat sementara dan tidak menunjukkan tren penurunan yang tidak terkendali. Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas, baik melalui pasar spot maupun instrumen derivatif, sehingga fluktuasi dapat diredam.

