Jakarta – Pemerintah terus memperluas Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah sebagai bagian dari komitmen memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program yang menyasar siswa SD, SMP, SMA sederajat, pesantren, hingga sekolah luar biasa (SLB) ini tidak hanya memeriksa kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa anak dan remaja.
Melalui CKG, pemerintah menghadirkan layanan kesehatan yang lebih dekat dengan lingkungan pendidikan. Pendekatan tersebut memungkinkan berbagai persoalan kesehatan diketahui lebih awal sehingga dapat segera memperoleh penanganan dan tindak lanjut. Langkah ini menjadi bagian dari strategi preventif untuk memastikan anak Indonesia tumbuh sehat, produktif, dan memiliki kesiapan fisik maupun mental menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala Puskesmas Karang Penang, dr. Fajar Ash Shiddiqi, mengatakan pihaknya aktif menggencarkan pemeriksaan kesehatan di sekolah mulai tingkat SD hingga SMA sederajat.
“Program Cek Kesehatan Gratis di sekolah merupakan upaya preventif yang sangat penting. Melalui pemeriksaan ini, berbagai gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya bisa dilakukan lebih cepat,” ujar dr. Fajar.
Menurutnya, keberhasilan program membutuhkan kolaborasi antara puskesmas, sekolah, guru, dan orang tua.
“Kami berharap seluruh sekolah dapat berpartisipasi aktif karena kesehatan anak merupakan tanggung jawab bersama. Pemeriksaan di sekolah juga membantu membangun kesadaran bahwa menjaga kesehatan harus dimulai sejak dini,” katanya.
Data nasional menunjukkan cakupan CKG terus berkembang. Deputi III Badan Komunikasi Pemerintah RI, Kurnia Ramadhana, menyampaikan bahwa hingga 14 Juli 2026 sebanyak 8.824.185 siswa telah mengikuti pemeriksaan kesehatan.
Lima persoalan kesehatan yang paling banyak ditemukan meliputi gigi berlubang 40,8 persen, hipertensi 27,7 persen, anemia pada remaja putri 27,3 persen, impaksi telinga 6,9 persen, dan obesitas 6,7 persen.
Kurnia menjelaskan, CKG mencakup pemeriksaan gigi, mata, telinga, status gizi, aktivitas fisik, hingga skrining kesehatan jiwa untuk mendeteksi potensi kecemasan maupun gangguan psikologis sejak dini.
“Jika ditemukan indikasi penyakit, orang tua bisa mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan dengan lebih cepat. Semakin cepat diketahui, semakin besar peluang untuk ditangani secara tepat,” ujar Kurnia.
Pemerintah menargetkan lebih dari 50 juta siswa di lebih dari 303 ribu sekolah mengikuti CKG sepanjang 2026. Perluasan program ini menegaskan kehadiran negara dalam memastikan setiap anak memperoleh akses pemeriksaan kesehatan yang setara.
Dengan mengintegrasikan layanan kesehatan dan pendidikan, CKG menjadi investasi strategis untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, tangguh, produktif, dan unggul.

