Oleh: Dhita Karuniawati )*
Ketahanan pangan tetap menjadi isu penting bagi Indonesia, terutama di tengah tekanan global seperti perubahan iklim, naik-turunnya harga komoditas, dan gangguan rantai pasok. Kondisi ini membuat upaya menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan tidak bisa lagi dilakukan sendiri-sendiri. Perlu kerja bersama yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, TNI, pelaku usaha, petani, hingga Masyarakat, agar ketahanan pangan nasional bisa tetap terjaga secara berkelanjutan.
Konsep collaborative governance menekankan pada sinergi lintas sektor dalam proses perumusan dan implementasi kebijakan publik. Dalam konteks pangan, hal ini berarti bahwa pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator yang menghubungkan berbagai kepentingan dan sumber daya. Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika tantangan pangan semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja.
Kementerian Pertanian menjadi salah satu aktor utama dalam mendorong kolaborasi ini. Upaya percepatan tanam serentak, misalnya, merupakan langkah strategis untuk meningkatkan produksi pangan secara nasional. Kementan menekankan bahwa percepatan tanam serentak dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas produksi di tengah ancaman krisis global. Kebijakan ini tidak hanya melibatkan pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani di lapangan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti mengatakan bahwa secara nasional, gerakan tanam serentak mencakup 25 provinsi dengan total target tanam mencapai sekitar 50 ribu hektare yang tersebar pada lokasi Oplah pada 2024 seluas 20.000 hektare, Oplah 2025 seluas 18.800 hektare, serta CSR 2025 seluas 10.322 hektare, ditambah lokasi rehabilitasi bencana seluas 1.116 hektare.
Gerakan ini menjadi langkah konkret Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif guna memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung tercapainya swasembada padi secara berkelanjutan. Selain itu, percepatan tanam juga menjadi strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk potensi El Nino, berisiko menurunkan produksi pangan

