Jakarta – Pemerintah terus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional melalui pengembangan proyek ayam terintegrasi nasional yang kini menjadi salah satu strategi utama dalam memperkuat swasembada protein hewani, meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat, sekaligus memperluas kapasitas ekspor unggas Indonesia. Langkah ini dinilai sejalan dengan visi pemerintahan Presiden dalam membangun kemandirian pangan nasional berbasis hilirisasi dan penguatan ekonomi rakyat dari desa.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa program hilirisasi ayam terintegrasi merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Proyek tersebut ditargetkan rampung dalam waktu 1,5 tahun agar manfaatnya dapat segera dirasakan peternak dan masyarakat luas.
“Kita sudah _groundbreaking._ Kita bangun mulai tahun ini. Mudah-mudahan maksimal dua tahun sudah selesai. Kalau bisa satu tahun setengah,” ujar Amran.
Amran juga menekankan bahwa Indonesia saat ini telah mencapai swasembada ayam dan telur, bahkan mampu menembus pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Jepang, Singapura, dan Timor Leste. Menurutnya, hilirisasi menjadi tahapan penting agar industri unggas nasional tidak hanya kuat dari sisi produksi, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar global.
“Program hilirisasi ayam terintegrasi akan memberikan keuntungan langsung bagi peternak sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Amran.
Ia menambahkan bahwa pemerintah ingin menghadirkan sistem usaha yang memberikan kepastian bagi peternak, terutama terkait harga bibit ayam atau _Day Old Chick_ (DOC), pakan, hingga pemasaran hasil produksi.
“Kita ingin BUMN masuk untuk menjamin harga DOC, pakan, dan _pullet_ serta terjamin kualitas dan kuantitasnya dengan harga yang membuat peternak bahagia dan untung. Ini juga diharapkan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Inilah program Presiden RI,” tegasnya.
Senada, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda menilai proyek ayam terintegrasi menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi peternak rakyat dalam rantai industri nasional. Pemerintah ingin memastikan bahwa peternak kecil tidak lagi berada di posisi paling rentan dalam sistem usaha perunggasan.
“Peternak rakyat menjadi prioritas dalam pengembangan industri ayam nasional. Mereka harus mendapatkan akses terhadap bibit, pakan, teknologi, dan pasar secara lebih adil,” jelas Agung.
Ia juga menyampaikan bahwa pendekatan terintegrasi akan menciptakan efisiensi produksi sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat peternak maupun konsumen. Dengan sistem yang lebih modern dan terhubung, diharapkan mampu menjadi penopang utama kebutuhan protein masyarakat Indonesia.

